Bagikan:

BOGOR - Pembangunan Jembatan Kaca Bendungan Sukamahi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ditargetkan bisa selesai pada 16 Mei 2026. Progres pengerjaan jembatan kaca yang dinilai terpanjang di Indonesia itu telah mencapai 81,35 persen.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Site Manager Operation Proyek Jembatan Kaca Ridwan Budi Santoso kepada wartawan di lokasi, Rabu, 26 November.

"Nah, kontrak awalnya itu di 478 hari kalender. Namun setelah perpanjangan kontrak, itu masa jangka waktu pelaksanaannya menjadi 614 hari kalender atau kami estimasikan selesai di pertengahan 2026," ujar dia.

Ridwan menjelaskan, pengerjaan dengan bobot terbesar adalah pekerjaan struktur, yakni mencapai 92 persen. Secara terperinci, bobot pengerjaan jembatan itu meliputi pekerjaan umum sebesar 1,41 persen, pekerjaan tanah dan geo 0,39 persen, pekerjaan aspal 0,09 persen, pekerjaan rehabilitasi jembatan 0,10 persen serta pekerjaan hunian dan lain-lain mencapai 5,89 persen.

"Dengan bobot 81,35 (persen), kok, secara fisiknya segini-gini saja gitu, ya, karena memang bobot terbesar kami itu ada di baja, wire dan juga struktur. Sedangkan yang sisa pekerjaan itu bobotnya kecil-kecil," katanya.

Dia menambahkan, pembangunan jembatan itu turut menggunakan teknologi konstruksi yang diklaim pertama kali diterapkan di Indonesia. Selain itu, dirancang sebagai jembatan kaca terpanjang di Indonesia mengalahkan Jembatan Kaca Seruni Point.

"Sebenarnya Jembatan Kaca ini saya tidak bilang sederhana, ya, tapi sebetulnya areanya sangat kecil," ucapnya.

Jembatan Kaca Bendungan Sukamahi dirancang sebagai jembatan gantung berteknologi tinggi dengan panjang total 275 meter, yanga mana bentang kaca dapat dipijak sepanjang 210 meter.

Inovasi utama terletak pada penggunaan kabel baja tipe Independent Wire Rope Core (IWRC).

Menurut Ridwan, teknologi kabel baja pilin, dirangkai dari 14 kawat yang disusun. Hal tersebut memang tidak umum di Indonesia, namun telah diadopsi dari standar konstruksi luar negeri, khususnya China.

Kabel utama atau suspension cable terdiri dari 56 kabel berdiameter besar yang menopang seluruh struktur. Kabel-kabel itu berfungsi layaknya urat baja, memberikan kekuatan luar biasa pada bentangan panjang.

Jembatan itu ditopang oleh lima struktut utama, yakni Counterweight 1, Pilon 1, Pilon 2 dan Counterweight 2, dengan Pilon utama menjulang setinggi sekitar 29,6 meter di atas deck jembatan.

Faktor keamanan menjadi prioritas utama dari infrastruktur tersebut. Lantai jembatan kaca memiliki ketebalan 3 sentimeter (30 mm). Setiap panel kaca memiliki bobot sekitar 600 kilogram.

Dengan bobot sebesar itu, jembatan tersebut dapat menahan beban hingga sekitar 500 kg per meter persegi, artinya mampu menampung kepadatan orang dalam jumlah besar.

Terdapat lapisan Wood Plastic Composite (WPC) di sisi kanan dan kiri kaca sebagai pijakan alternatif bagi pengunjung yang fobia ketinggian (acrophobia), memastikan kenyamanan dan keamanan psikologis pengunjung.

Menurut Ridwan, jembatan itu direncanakan memiliki umur layanan (service life) hingga 50 tahun dan telah didesain tahan gempa sesuai Peta Gempa Nasional dan BMKG.

Proyek tersebut tidak hanya fokus pada konstruksi fisik, tetapi juga teknologi pengawasannya.

"Jembatan ini diusulkan untuk mengadopsi teknologi Structural Health Monitoring System (SHMS), serupa dengan yang digunakan di jembatan Bromo," tuturnya.

SHMS sendiri berfungsi untuk mengukur perilaku struktur, pergerakan kabel (creep) dan potensi penurunan jembatan.

Selain itu juga berfungsi menyediakan informasi real-time kepada pengunjung terkait kondisi jembatan.

"Jadi, memang sedang diusulkan untuk pengajuan SHMS. Sehingga, nanti teknologi di Bromo akan kami aplikasikan di sini. Karena SHMS itu memang sangat berfungsi sekarang, terutama untuk monitoring, terus informasi ke wisatawan terkait dengan kondisi jembatan seperti apa," jelasnya.

Untuk diketahui, WIKA telah menandatangani kontrak proyek pembangunan dan pengawasan Jembatan Kaca Bendungan Sukamahi senilai Rp185 miliar dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak 10 September 2024.

Adapun lingkup pekerjaannya meliputi fondasi bore pile, counter weight dan pylon, kabel penggantung utama & hanger, struktur deck baja hingga lantai kaca.

Tujuan pembangunan jembatan gantung itu sebagai sarana pariwisata di area Bendungan Sukamahi dengan pemandangan Gunung Salak dan Pangrango, guna meningkatkan perekonomian di daerah Sukamahi, Kabupaten Bogor, dan sekitarnya.