Bagikan:

YOGYAKARTA - Banyak investor sering kali terjebak kerugian karena salah menerapkan strategi Average Down Saham. Mereka berharap harga akan berbalik, padahal tindakan tersebut justru berpotensi melipatgandakan risiko.

Di dunia saham, tindakan impulsif tanpa didukung data solid adalah kesalahan fatal. Artikel ini akan membongkar tuntas alasan-alasan investor melakukan average down, serta untung dan ruginya ketika melakukannya.

Mengapa Melakukan Average Down Saham?

Sebelum memahami lebih dalam average down, dilansir dari laman SoFi berikut ini beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui:

  • Value Investing (Investasi Nilai)

Value investing adalah gaya investasi yang berfokus mencari saham yang diperdagangkan pada nilai yang baik. Atau biasanya saham yang di bawah harga wajar (undervalued).

Dengan averaging down, investor dapat membeli lebih banyak saham yang mereka sukai, dengan harga diskon.Namun, ada risiko saham tersebut hanya tampak undervalued padahal tidak.

Hal ini dapat menjebak investor ke dalam jebakan nilai (value trap), di mana perusahaan diperdagangkan dengan metrik valuasi rendah (seperti rasio P/E atau PBV) untuk waktu yang lama dan tidak mungkin naik. Nah, meskipun terlihat murah, jika bukan proposisi nilai sejati, harganya kemungkinan besar akan terus turun.

  • Dollar-Cost Averaging (Rata-Rata Biaya Dolar)

Bagi sebagian investor, averaging down dapat menjadi cara untuk memasukkan lebih banyak uang ke pasar.

Filosofinya mirip dengan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA), yaitu ide untuk berinvestasi secara teratur tanpa memandang kondisi pasar (naik atau turun), untuk mendapatkan keuntungan rata-rata jangka panjang.

  • Mitigasi Kerugian (Loss Mitigation)

Bagi beberapa investor akan beralih ke strategi averaging down untuk membantu keluar dari kerugian yang disebabkan oleh harga yang lebih rendah. Mengapa demikian?

Baca juga artikel yang membahas Apa Itu Volatilitas​ dalam Saham? Ini Pengertian dan Fungsinya

Alasannya, saham yang telah kehilangan nilainya harus tumbuh secara proporsional lebih besar daripada penurunannya agar kembali ke harga awal. Contoh Matematika sebagai berikut:

Jika Anda membeli 100 lembar pada $75 dan turun ke $50 (rugi $33), maka saham harus naik $50 (dari $50 ke $75) untuk kembali impas.

Maka perubahan dengan Average Down adalah: Jika di $50 Anda membeli 100 lembar lagi, harga hanya perlu naik $25 (menjadi $62.50) agar posisi Anda mulai untung.

Keuntungan dan Kerugian Averaging Down

  • Keuntungan

Manfaat utama strategi ini adalah agar investor dapat membeli lebih banyak saham yang memang ingin dimiliki untuk jangka panjang, dengan harga yang lebih baik daripada yang dibayar sebelumnya, dengan potensi keuntungan yang lebih besar.

Keputusan untuk average down harus didasarkan pada keinginan untuk memiliki saham tersebut dalam jangka panjang, bukan hanya pergerakan harga saat ini.

Jika investor yakin pada pertumbuhan jangka panjang perusahaan, dan saham pada akhirnya tumbuh, strategi ini akan berhasil.

  • Kerugian

Strategi ini mewajibkan investor membeli saham yang sedang kehilangan nilai. Penurunan ini mungkin bukan sementara, melainkan awal dari penurunan besar pada perusahaan.

Nah, dalam skenario ini investor hanya melipatgandakan kerugian pada investasi yang merugi. Perubahan harga saja tidak boleh menjadi satu-satunya indikasi untuk membeli lebih banyak. Dengan demikian, investor harus meneliti penyebab penurunan sebelum membeli.

Selain itu, averaging down meningkatkan porsi pada satu posisi saham, sehingga dapat memengaruhi alokasi aset portofolio Anda secara keseluruhan, yang berpotensi meningkatkan risiko kerugian.

Selain pembahasan mengenai average down saham, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+