JAKARTA - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 November 2025.
"(Bank Indonesia) mempertahankan suku bunga kebijakan sebesar 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang akan mendukung stabilitas Rupiah dan memperkuat kepercayaan terhadap sikap kebijakan Bank Indonesia," Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky ujarnya dalam keterangannya, Selasa, 18 November.
Teuku menyampaikan Indonesia memasuki kuartal terakhir tahun 2025 dengan inflasi yang terus meningkat, tekanan eksternal yang kembali muncul, dan kehati-hatian investor yang semakin meningkat.
Menurutnya, inflasi umum naik pada Oktober karena harga pangan tetap tinggi akibat gangguan pasokan terkait cuaca dan harga emas yang naik terus mendorong kenaikan komponen inti.
Dia menambahkan, pada saat yang sama, arus keluar modal meningkat meskipun the Fed memangkas suku bunga, didorong oleh kekhawatiran yang meningkat terkait risiko fiskal dan quasi-fiskal, terutama setelah rencana pemerintah untuk mengambil alih utang kereta api berkecepatan tinggi Whoosh.
"Perkembangan ini melemahkan Rupiah dan meningkatkan pentingnya kredibilitas kebijakan," jelasnya.
Dia menambahkan, Indonesia mengalami aliran modal keluar yang terus berlanjut antara pertengahan Oktober 2025 dan pertengahan November 2025 sebesar 0,95 miliar dolar AS yang hampir sepenuhnya disebabkan oleh penjualan oleh investor asing di pasar obligasi pemerintah.
Adapun arus keluar dari pasar obligasi mencapai 1,77 miliar dolar AS, sementara pasar saham mencatatkan arus masuk bersih sebesar 0,82 miliar dolar AS pada periode yang sama.
Teuku menambahkan, secara keseluruhan, perkembangan terbaru mengindikasikan pengaturan kebijakan yang lebih hati-hati untuk November.
"Inflasi mulai meningkat dan berpotensi naik lebih lanjut seiring dengan puncak permintaan musiman, sementara arus keluar portofolio dan pelemahan rupiah menegaskan pentingnya menjaga stabilitas eksternal," jelasnya.
BACA JUGA:
Di sisi lain, ia menyampaikan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang risiko fiskal dan quasi-fiskal meningkatkan sentimen investor terhadap sinyal kebijakan.
Dalam situasi ini, menurutnya, mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,75 persen akan memberikan acuan yang diperlukan, serta membantu membatasi tekanan pada mata uang dan memperkuat kepercayaan terhadap kemandirian kebijakan Bank Indonesia.