Bagikan:

JAKARTA - Popularitas olahraga lari di Indonesia terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekadar aktivitas menjaga kebugaran, lari kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, hingga ruang untuk membangun komunitas dan menetapkan pencapaian personal.

Tidak sedikit pelari yang menjadikan marathon sebagai target jangka panjang. Tak hanya soal garis finis, tetapi juga tentang proses disiplin dan konsistensi yang dijalani setiap hari.

Bagi sebagian orang, marathon bukan tujuan yang hadir secara instan. Dibutuhkan kebiasaan, latihan bertahap, dan kemampuan menjaga ritme untuk sampai ke jarak penuh 42 kilometer.

Perwakilan komunitas RIOT Indonesia, Agung Triyudanta, mengatakan setiap pelari memiliki proses perkembangan masing-masing sebelum akhirnya siap menghadapi marathon.

“Semua pelari itu bermula dari hal yang kecil. Biasanya dari 5 kilometer, lalu terbiasa dan naik ke 10 kilometer, kemudian 21 kilometer, sampai akhirnya ke 42 kilometer. Jadi semuanya bertahap dan ada perkembangannya dari masing-masing orang,” ujar Agung, saat ditemui di Bungarampai, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut Agung, marathon juga menjadi sarana untuk membangun diri menjadi lebih baik. Ketika seseorang menetapkan target lari tertentu, proses latihan secara tidak langsung membantu membentuk disiplin dan konsistensi dalam keseharian.

“Marathon itu salah satu cara kita untuk set goals. Ketika punya tujuan, kita jadi membangun diri sendiri untuk jadi lebih baik,” tambahnya.

Di tengah pertumbuhan tren tersebut, berbagai inisiatif mulai hadir untuk mendekatkan pengalaman marathon kelas dunia kepada pelari Indonesia. Salah satunya melalui program“Road to Marathon in Berlin 2026”yang dihadirkan olehTempo, merek tisu premium asal Jerman yang telah berdiri sejak 1929 dan kini hadir di Indonesia.

Program ini memberikan kesempatan bagi empat konsumen Indonesia untuk memenangkan paket perjalanan penuh menuju salah satu ajang lari paling prestisius di dunia, World Marathon Majors (WMM) di Berlin, termasuk biaya ballot, tiket pesawat, akomodasi, hingga uang saku. Program berlangsung mulai 1 April hingga 30 Juni 2026.

Menurut Abraham Nandiwardhana, Country Head PT Vinda International Indonesia, pemilihan marathon di Berlin tidak dilakukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari nilai yang dianggap selaras dengan filosofi merek.

“Tempo lahir dari satu keyakinan bahwa kualitas bukan kemewahan sesaat, melainkan standar hidup yang dipegang setiap hari. Lari marathon di Berlin merepresentasikan hal yang sama, yaitu konsistensi, ketahanan, dan performa terbaik yang lahir dari pilihan personal yang tidak pernah setengah-setengah,” kata Abraham.

Ia menambahkan program tersebut menjadi cara untuk menghadirkan semangat yang sama kepada konsumen di Indonesia.

“Program ini cara kami menghadirkan spirit tersebut secara nyata kepada konsumen Indonesia yang memang sudah hidup dengan standar itu,” lanjutnya.

Senada dengan itu, Head of Marketing PT Vinda International Indonesia, Andrew Soendjojo, melihat olahraga lari memiliki keterkaitan erat dengan semangat untuk terus berkembang.

“Lari itu menunjukkan orang tidak pernah puas dengan kondisi sekarang. Walaupun sudah finis, mereka ingin lebih cepat lagi. Hal seperti itu yang kami apresiasi dalam hidup,” bebernya.

Andrew juga menilai marathon di Berlin memiliki relevansi tersendiri karena keterkaitannya dengan asal-usul merek tersebut.

“Kenapa marathon di Berlin, karena memang Tempo lahir di Jerman. Jadi ini seperti kembali ke tempat asal kami,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, program ini turut melibatkan sejumlah komunitas lari seperti RIOT Indonesia, TNG Runner, Serikat Pelarian, Wake and Run, Run on Bali, dan Indo Runner Surabaya. Setiap komunitas memiliki referral code yang dapat digunakan peserta saat mendaftarkan transaksi.

Brand Manager Tempo PT Vinda International Indonesia, Kevin Juanito menjelaskan mekanisme partisipasi dirancang sederhana agar dapat diikuti lebih banyak masyarakat.

“Program ini memang kami rancang dengan mekanisme yang sangat sederhana, karena tujuan kami agar seluruh masyarakat Indonesia dapat berpartisipasi,” jelas Kevin.

Kevin menerangkan peserta cukup membeli produk di mitra ritel yang telah bekerja sama, mengunggah bukti transaksi, dan memantau akumulasi poin melalui sistem leaderboard yang dapat diakses secara real-time.

“Kami juga menyediakan live leaderboard, sehingga konsumen bisa melihat data secara transparan dan mengetahui posisi mereka secara real-time,” tambahnya.

Bagi komunitas pelari, kesempatan menuju Berlin dinilai bukan hal yang mudah didapat. Marathon Berlin sendiri merupakan bagian dari World Marathon Majors yang memiliki slot peserta terbatas dan diperebutkan pelari dari berbagai negara.

Agung menilai kesempatan seperti ini menjadi sesuatu yang menarik bagi komunitas lari di Indonesia.

“Kesempatan untuk ikut World Marathon Majors itu sangat kecil. Dari ribuan bahkan ratusan ribu pendaftar, yang dipilih hanya sebagian kecil. Karena itu kesempatan seperti ini jadi sesuatu yang exciting buat pelari." tutur Agung.

Marathon bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Di balik jarak yang panjang, ada proses latihan, komitmen, dan keberanian untuk terus bergerak menuju target berikutnya, sesuatu yang tampaknya semakin dekat dengan keseharian banyak orang di tengah tumbuhnya budaya lari di Indonesia.