Bagikan:

JAKARTA – PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) memastikan adanya insiden teknis yang menyebabkan fasilitas smelter katoda tembaga milik entitas anak perusahaan, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), berhenti beroperasi sejak Juli 2025.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen mengungkapkan bahwa penghentian sementara kegiatan produksi dilakukan akibat keadaan kahar (force majeure) yang menimpa dua unit penting dalam proses pemurnian.

“Proses komisioning fasilitas smelter menghadapi keadaan kahar yang disebabkan kerusakan pada unit Flash Converting Furnace (FCF) dan Sulfuric Acid Plant,” ujar Direktur Utama AMMN Arief Widyawan Sidarto, Selasa, 28 Oktober.

Arief menjelaskan, sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 6 Tahun 2025, pemegang izin usaha pertambangan khusus (IUPK) tahap operasi produksi yang telah membangun fasilitas pemurnian diperbolehkan melakukan ekspor konsentrat dalam kondisi tertentu, termasuk ketika terjadi keadaan kahar.

Kebijakan tersebut memungkinkan perusahaan menjual sebagian hasil produksi ke luar negeri dalam jumlah dan periode terbatas, sambil menunggu pemulihan fasilitas pemurnian dalam negeri.

“Sampai dengan tanggal surat ini, perseroan masih menunggu diterbitkannya rekomendasi ekspor oleh Menteri ESDM yang merupakan prasyarat untuk mendapatkan persetujuan ekspor dari Menteri Perdagangan,” kata Arief.

Dia menambahkan, proses pengajuan rekomendasi ekspor tengah dalam evaluasi Kementerian ESDM yang dipimpin Bahlil Lahadalia.

Hasil evaluasi tersebut akan menentukan apakah perusahaan memperoleh izin sementara untuk mengekspor konsentrat tembaga.

Sebagai informasi, surat rekomendasi dari Menteri ESDM menjadi syarat utama sebelum izin ekspor diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan.

Evaluasi dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap progres pembangunan smelter, tingkat kesiapan operasional, dan pemenuhan kewajiban perusahaan terhadap negara.

AMMN belum memberikan informasi mengenai estimasi waktu perbaikan fasilitas smelter maupun potensi dampaknya terhadap volume produksi dan pendapatan perusahaan pada semester II/2025.