JAKARTA - Reli harga logam mulia yang terus berlanjut mendorong harga emas ke rekor tertinggi di atas level US$ 4.300 per troy ons. Melihat tren kenaikan ini, HSBC memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per troy ons pada 2026.
“Pasar bullish kemungkinan masih akan mendorong harga emas lebih tinggi pada paruh pertama 2026, bahkan bisa mencapai level tertinggi di kisaran US$ 5.000 per ons,” tulis HSBC dalam laporannya, dikutip dari Kitco News, Minggu 19 Oktober.
Prediksi terbaru ini didukung oleh meningkatnya risiko terhadap ekonomi global dan tingginya minat investor baru di pasar logam mulia.
HSBC juga menaikkan proyeksi rata-rata harga emas tahun 2025 menjadi US$ 3.455 per troi ons, dari sebelumnya US$ 3.355. Untuk tahun 2026, proyeksi rata-rata harga emas naik menjadi US$ 4.600, dari perkiraan awal US$ 3.950 per ons.
Kenaikan harga emas tersebut didorong oleh berbagai faktor seperti ketegangan geopolitik, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, peningkatan dana investasi berbasis ETF, ekspektasi penurunan suku bunga AS, serta ketidakpastian ekonomi global. HSBC juga menyoroti faktor utang publik dan kebijakan fiskal yang belum stabil sebagai pendorong tambahan.
Meski begitu, HSBC mengingatkan bahwa volatilitas harga masih mungkin terjadi pada paruh kedua 2026, disertai dengan potensi moderasi harga setelah periode kenaikan yang panjang.
BACA JUGA:
“Berbeda dari reli sebelumnya, kami memperkirakan banyak pembeli baru akan tetap bertahan di pasar emas, bukan semata karena apresiasi harga, tetapi karena faktor diversifikasi portofolio dan sifat safe haven emas,” jelas analis HSBC.
Dengan prospek yang kuat ini, emas diperkirakan akan tetap menjadi salah satu instrumen investasi paling menarik hingga 2026, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.