JAKARTA - Harga emas dunia mencatat penguatan signifikan sepanjang pekan pertama Januari 2026, ditopang lonjakan permintaan aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mengecewakan.
Penguatan emas dimulai pada awal pekan, Senin (5/1/2026), setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Peristiwa tersebut memicu eskalasi geopolitik dan mendorong investor mengalihkan aset ke instrumen aman. Pada hari itu, harga emas spot melonjak 1,9% ke level US$ 4.411,14 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman Februari naik 2,1% ke US$ 4.419,90 per ons.
Tren penguatan berlanjut pada Selasa (6/1/2026). Permintaan emas semakin menguat setelah AS melancarkan aksi militer ke Venezuela.
Harga emas spot melonjak 2,7% menjadi US$ 4.444,52 per ons, sedangkan emas berjangka AS ditutup menguat 2,8% ke US$ 4.451,50 per ons. Pada sesi yang sama, emas juga bergerak mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, setelah sebelumnya mencetak level puncak US$ 4.549,71 per ons pada 26 Desember 2025.
Momentum positif masih bertahan hingga Rabu (7/1/2026). Harga emas global tetap berada di zona hijau dan diperdagangkan di kisaran US$ 4.499 per ons.
Memasuki Kamis (8/1/2026), pergerakan emas cenderung tertahan. Investor bersikap wait and see menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya nonfarm payrolls, serta menanti arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Harga emas spot berada di level US$ 4.452,64 per ons, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di US$ 4.406,89 per ons.
BACA JUGA:
Pada penutupan pekan, Jumat (9/1/2026) waktu AS atau Sabtu (10/1/2026) pagi WIB, harga emas kembali menguat. Logam mulia naik sekitar 0,71% ke level US$ 4.509,34 per ons, didorong data ketenagakerjaan AS yang kembali berada di bawah ekspektasi serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik.
Jika dihitung dari awal pekan hingga akhir pekan, harga emas spot naik dari US$ 4.411,14 per ons pada Senin menjadi US$ 4.509,34 per ons pada Jumat. Artinya, emas dunia mencatat kenaikan sebesar US$ 98,20 per ons atau setara dengan penguatan sekitar 2,23% secara mingguan.