Bagikan:

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa International Monetary Fund atau Dana Moneter Internasional (IMF) menilai Indonesia sebagai bright spot atau titik terang di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya hal ini didasarkan pada kinerja ekonomi nasional yang tetap solid, dengan pertumbuhan rata-rata di atas 5 persen selama tujuh tahun terakhir.

“Indonesia tumbuh 35 persen dan Indonesia masih mampu untuk berlayar dalam situasi yang tidak menentu," ujarnya dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kamis, 16 Oktober.

Menurut Airlangga hal ini menunjukkan ketahanan Indonesia dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu.

Ia menambahkan bahwa penilaian positif tersebut turut memberikan kepercayaan kepada dunia internasional terhadap perekonomian Indonesia.

Airlangga menambahkan hal ini tercermin dari peringkat utang Indonesia (sovereign rating) yang tetap berada pada level investment grade dengan outlook stabil dari lembaga-lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings dan Standard & Poor’s (S&P).

Ia menambahkan selain pertumbuhan ekonomi, sovereign rating dan indikator makroekonomi lainnya juga menunjukkan kinerja yang baik.

"Pertumbuhan ekonomi ini juga diikuti dengan berbagai hal yaitu inflasi terjaga di 2,65 persen. Ini merupakan inflasi yang rendah dibandingkan negara lain," ucapnya.

Selain itu, Ia menambahkan bahwa cadangan devisa Nasional berada di kisaran 150 miliar dolar AS, meskipun mengalami fluktuasi yang wajar.

“Cadangan devisa kita sekitar 150 miliar dolar AS, fluktuasi tentunya, tapi tentu kita menunjukkan bahwa secara ekonomi, fundamental, policy Indonesia terus menjaga, tingkat defisit juga kita jaga, budget defisit di 3 persen dan hutang di bawah 40 persen, di antara berbagai negara di G20,” lanjutnya.

Airlangga menambahkan bahwa beberapa negara besar seperti Amerika Serikat dan Jepang memiliki rasio utang yang sudah melebihi 100 persen dari PDB.