Bagikan:

BADUNG - PT Pertamina International Shipping (PIS) bersama Divers Clean Action (DCA) dan Azura Indonesia bekerja sama memberdayakan masyarakat Desa Kelan melalui program Desa Energi Berdikari Keluarga Nelayan Lestari (DEB Kenali) di Desa Kelan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Manager Corporate Social Responsibility PT Pertamina International Shipping, Alih Istik Wahyuni menjelaskan, program yang sudah berjalan selama setahun ini mengusung tiga pilar utama yakni Renewable Energy, Community Empowerment dan Financial Literacy.

"Jadi sebenarnya program ini sudah berlangsung selama setahun terakhir. Dan ini merupakan salah satu tanggung jawab kami kepada masyarakat," ujar Alih di Desa Kelan, dikutip Kamis, 8 Oktober.

Ia merinci, wujud nyata pilar Renewable Energy adalah melalui penerapan mesin listrik untuk perahu nelayan, pembangunan solar charging station, dan penyediaan fasilitas umum berbasis energi surya.

Menurut Alih, pemberian bantuan CSR bagi Desa Kelan terbilang cukup unik jika dibandingkan dengan program-program lainnya yang pernah dilakukan karena pemanfaatan energi dari panel surya ini sebagai tenaga untuk mesin kapal nelayan. Melalui program ini ia mengklaim dapat menghemat biaya yang dikeluarkan oleh nelayan hingga 70 persen.

"Nah, dengan menggunakan energi listrik itu makanya secara biaya mereka bisa sangat mengurangi lebih dari 70 persen. Kenapa? Karena mereka udah nggak perlu BBM lagi. Tetapi sudah menggunakan pengisian dayanya juga yang bertenaga surya. Jadi hampir 0 persen tentunya gitu. Makanya pengurangannya bisa sangat jauh," terang dia.

Untuk menyediakan mesin kapal listrik, PIS menggandeng Azura Indonesia sebagai pengembang dan menyediakan mesin MantaOne bagi nelayan. Dalam program ini PIS menyediakan lima mesin dengan 10 baterai sebagai cadangan.

Selanjutnya, untuk pilar Community Empowerment, PIS juga ikut pendampingan nelayan untuk mengembangkan diversifikasi usaha seperti wisata mangrove, fishing trip, bird watching, kuliner pesisir (blue foods), serta pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Alih menjelaskan, untuk wisata mangrove, kapal yang digunakan untuk susur mangrove dan bird watching dapat memanfaatkan mesin listrik yang lebih ramah lingkungan dan tidak bising seperti mesin dengan bahan bakar minyak.

"Karena dia tidak berisik, sehingga tidak menakuti burung ataupun fauna-fauna yang mau kita lihat sepanjang wisata susur mangrove itu," kata dia.

Selanjutnya, PIS juga memberikan pelatihan pengilahan makanan dari hasil laut nelayan untuk menopang perekonomian keluarga.

"Nah dengan kita bantu untuk pengolahan ikan yang punya nilai jual lebih tinggi bisa membantu pendapatan keluarga ketika pendapatan suami dari tangkap ikannya itu menurun. Nah salah satunya adalah pengolahan blue food atau kuliner dari laut yang tadi kita saksikan adalah pembutan abon ikan" jelas Alit.

Terakhir, Financial Literacy di mana pemberdayaan perempuan nelayan melalui literasi keuangan keluarga dan peningkatan akses finansial untuk usaha mikro.

Alit mengatakan, pihaknya aktif memberikan edukasi serta pelatihan untuk mengolah maknan laut dan kemudian dipasarkan kepada wisatawan yang datang ke ekosistem mangrove di sekitar desa Kelan.

"Jadi ketika wisatawan sewa kapal untuk susur mangrove atau mancing, makanan bisa disupport ibu-ibu di sini," jelas dia.

Alasan Memilih Desa Kelan

Alih menjelaskan, alasan pemilihan Desa Kelan adalah lokasinya yang hanya sejauh 4 km dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sehingga memudahkan akses wisatawan untuk berkunjung.

Tak hanya itu, program yang diluncurkan sejak 2024 ini juga disambut positif oleh masyarakat Desa Kelan.

Sejak dijalankan, program ini telah melibatkan 117 anggota masyarakat dan 161 rumah tangga di Desa Kelan. Partisipasi aktif ini kemudian menimbulkan keinginan lebih dari PIS untuk mengembangkan potensi yang ada. Antusiasme tinggi ini juga didukung oleh kreatifitas masyarakat sehingga pengembangan potensi terjadi lebih cepat.

"Masyarakatnya juga mau terlibat secara aktif untuk program-program ini berjalan dan muncullah kreativitas-kreativitas dari masyarakat," kata Alih.

Sebagai perusahaan yang erat kaitannya dengan laut, Alit menyebut PIS memilih wilayah pesisir untuk dijaga keasriannya.

Menurut Managing Director Divers Clean Action (DCA) Amrullah Rosadi mengatakan, manfaat program DEB KENALI kini mulai dirasakan masyarakat. Misalnya, pengurangan emisi hingga 62 kg CO₂ dalam 2 bulan pemakaian mesin perahu listrik, peningkatan pendapatan nelayan, serta terbentuknya usaha mikro berbasis sumber daya lokal melalui kegiatan seperti ecotrip mangrove dan olahan ikan laut.

Program ini juga memfasilitasi uji coba pengangkutan sampah terpilah bersama TPS3R, Desa Adat, dan pengepul yang kini berjalan dengan baik.

“Kami berharap program ini dapat menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan pesisir, tidak hanya memberikan manfaat bagi kelestarian alam, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakatnya,” jelas dia.

Inisiatif tersebut sejalan dengan berbagai indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 14 tentang Ekosistem Lautan dengan menekankan keterpaduan antara energi terbarukan, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian ekosistem laut.