BADUNG -Pertamina International Shipping (PIS) memberikan bantuan berupa lima mesin perahu bertenaga listrik dan 10 unit baterai kepada masyarakat nelayan di Desa Kelan. Asal tahu saja, Desa Kelan merupakan salah bagian dari program Desa Energi Berdikari – Keluarga Nelayan Lestari (DEB KENALI).
Manager Corporate Social Responsibility PT Pertamina International Shipping, Alih Istik Wahyuni mengatakan, pemberian bantuan CSR bagi Desa Kelan terbilang cukup unik jika dibandingkan dengan program-program lainnya yang pernah dilakukan karena pemanfaatan energi dari panel surya ini sebagai tenaga untuk mesin kapal nelayan.
"Nah, kita salah satu bantuannya itu adalah memberikan bantuan mesin nelayan yang menggunakan energi listrik," ujar Alih kepada awak media saat ditemui di Desa Kelan, Rabu, 8 Oktober 2025.
Dikatakan Alih, dengan bantuan tersebut, nelayan bisa menghemat hingga 70 persen biaya yang dikeluarkan jika dibandingkan saat masih menggunakan BBM sebagai bahan bakar. Dengan mesin kapal anyar ini, masyarakat nelayan tidak lagi mengeluarkan biaya, bahkan pengisian ulang daya pun dilakukan dengan memanfaatkan panel surya yang terpasang di Balai Serba Guna Desa Kelan.
"Kalau misalnya udah mau habis tinggal dicas aja. Karena kita juga bantu panel suryanya dan charging station. Jadi mereka bisa langsung ngecas di tempat yang sudah kita sediakan," beber dia.
Alih mengklaim, manfaat program DEB KENALI kini mulai dirasakan masyarakat. Misalnya, pengurangan emisi hingga 62 kg CO₂ dalam 2 bulan pemakaian mesin perahu listrik.
"Jadi hampir 0 persen tentunya gitu. Makanya pengurangannya bisa sangat jauh," lanjut dia.
Salah satu penerima manfaat, Wayan Wirtha yang berprofesi sebagai nelayan mengaku, dari sisi kecepatan, mesin listrik cukup kompetitif jika dibandingkan dengan mesin listrik.
Wayan mengaku telah menggunakan mesin listrik selama dua bulan, dankeungulan lain yang dirasakannya adalah lebih nyaman saat digunakan untuk melakukan kegiatan bird watching di kawasan hutan mangrove yang berada di sekitar Desa Kelan karena suara mesin yang lebih senyap.
"Kalau dipakai menyusuri hutan, bagus untuk mengintai burung-burung. Kalau bagi saya, bagus lah," sambung Wayan.
Wayan juga mengungkapkan jika dirinya telah menggunakan mesin listrik ini untuk mengelilingi Tanjung Benoa sebanyak 15 kali dan tidak menemukan masalah berarti selain suhu mesin yang mengalami peningkatan. Namun permasalahan ini sudah diatasi sat dirinya menghubungi teknisi.
"Tidak ada masalah, tidak ada. Paling-paling cuma panas saja. Sekarang saya kasih saran sama mekaniknya, ditambahin pendingin, ternyata sudah oke. Sudah bagus bagi saya. Tadi saya coba lagi, mantap kecepatannya," tandas Wayan.
BACA JUGA:
Untuk menyediakan mesin kapal ini, PIS menggandeng Azura Indonesia sebagai inovator mesin kapal bertenaga listrik.
CEO dan Co-Founder Azura Indonesia, Nadea Nabilla Putri, mengatakan, mesin kapal yang diberi nama MantaOne ini merupkan mesin dengan baterai ion litium yg dapat dioperasikan selama tiga jam berlayar atau dengan jarak 15 nautical miles.
"Satu baterai cooper, penggunaan non stop maksimal speed bisa 3-4 jam, karena ada faktor arus juga," jelas dia.
Sementara itu untuk penggunaan baterai swap, Dea mengaku hanya bertahan selama satu jam pemakaian. Menurut Dea, hal ini dikarenakan kapasitas baterai yang lebih kecil sehingga penggunaannya hanya bertahan selama satu jam.
"Karena kan kalau yang swap itu kapasitasnya lebih kecil daripada yang kita punya. Cuman idenya adalah biar terhubung, terkoneksi. Jadi ekosistemnya jadi gitu," tandas Dea.