Bagikan:

JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI-Perjuangan Mufti Anam melontarkan kritik keras kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terkait dengan perbaikan manajemen.

Kritik ini muncul sejalan dengan masalah yang menimpa maskapai tersebut.

Menurut Mufti, maskapai tersebut tidak pernah memberikan keuntungan untuk negara.

Padahal, lanjutnya, negara sudah hadir untuk membantu Garuda Indonesia melalui Danantara Indonesia yang memberikan suntikan dana segar sebesar Rp6,6 triliun.

“Untuk perbaikan keuangan juga tidak baik-baik saja. Maka sebenarnya negara sudah hadir begitu banyak untuk menyelamatkan Garuda, tapi tetap begitu-begitu saja,” tuturnya dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi VI dan Garuda Indonesia, InJourney Airports, dan IAS, Senin, 22 September.

Mufti menilai seharusnya dengan suntikan dana yang diberikan melalui Danantara ini seharusnya Garuda Indonesia dapat memberikan market share serta keuntungan yang berlipat.

“Disampaikan akan menguasai 50 persen misal pasar domestik. Nah, buat kami ini mustahil. Sekarang saja baru 11 persen. Di atas swasta 60 persen,” tuturnya.

Tantang Direksi Mundur dan Usul Bubarkan Garuda

Mufti pun mempertanyakan market share tersebut dapat dicapai pada tahun berapa. Jika tidak tercapai, Mufti menantang jajaran direksi untuk mundur.

“50 persen tangsa pasar domestik itu dicatai tahun berapa. Kami tidak mau ditipu-tipu lagi di tempat ini. Kami minta roadmap-nya tahun 2026, berapa persen pangsa pasar. Dan kalau tidak tercapai, sanggup tidak direksi dan sesudah jajarannya mundur?,” tanya Mufti.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, Mufti mengatakan layanan Garuda Indonesia juga menurun. Bahkan, dia bilang, penerbangan Garuda Indonesia acap kali delay atau terlambat.

“Saya yakin pasti tepat waktu, jam 15.40 ternyata delay. Bahkan lebih cepat pesawat yang biasa saya naikin, yang itu pesawat swasta. Jadi ternyata kita berharap Garuda yang tepat waktu yang ini juga nggak juga. Makanya saya bertanya juga kepada bapak di depan tadi, pada tahun 2023 mendapatkan penghargaan, penghargaan dari siapa penerbangan tepat waktu?,” tanyanya.

Selain itu, Mufti menyoroti kekuatan armada Garuda Indonesia 78 unit. Tetapi, berdasarkan data pesawat yang bisa diservice atau  serviceable hanya 58 unit.

“Artinya ada 20 pesawat yang tidak bisa diperbaiki, kan begitu, Pak? Kalau salah persepsi saya, tolong nanti dijelaskan. Berarti kalau saya hitung itu persentase 26 persen, artinya seperempat dari pesawat yang dibeli Garuda Indonesia bobrok, begitu,” tanyanya.

“Saya pingin tanya juga, benchmark ke swasta berapa sih yang bobrok, yang misalnya di Lion, di Batik Air begitu, Pak. Ini wajar nggak 26 persen pesawat bobrok, tidak jadi beban buat Garuda Indonesia,” sambungnya.

Jika masalah-masalah ini tidak bisa diatasi oleh manajemen Garuda Indonesia, sambung Mufti, lebih baik jika dibubarkan saja,

“Maka buat kami kalau memang tidak diselesaikan, tidak ada harapan buat Garuda, daripada memusingkan kita, membebani rakyat, juga rakyat tidak ada dampak secara langsung dari Garuda Indonesia, bubarkan saja,” tuturnya.

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengumumkan akan memberikan suntikan modal kepada Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia senilai 405 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp6,65 triliun.

Suntikan modal itu diberikan dalam bentuk pinjaman pemegang saham (shareholder loan). Dana itu akan digunakan untuk mendanai kebutuhan maintenance, repair and overhaul (MRO) yang merupakan bagian dari total dukungan pendanaan bernilai sekitar 1 miliar dolar AS.

Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari proses restrukturisasi yang telah dijalankan Garuda Indonesia di 2022, sekaligus menandai dimulainya fase baru transformasi Garuda Indonesia untuk menjadi maskapai yang sehat, kompetitif, dan berkelas dunia.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Wakil Menteri BUMN Dony Oskaria mengatakan dukungan itu diberikan untuk proses transformasi komprehensif grup Garuda Indonesia.

“Sebagai pemegang saham kita berkewajiban untuk melakukan, melihat satu per satu keadaan daripada perusahaan kita yang selalu kita melihat dari potensi bisnisnya, dampaknya terhadap perekonomian. Dan dengan keyakinan penuh kami melakukan proses transformasi komprehensif dalam Garuda Indonesia,” kata Dony dalam konferensi pers di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa, 24 Juni.