JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengkaji implementasi bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel 50 persen atau B50.
Asal tahu saja, B50 direncanakan akan berjalan pada tahun 2026.
Untuk itu, pemerintah masih akan mengimplementasikan B45 di tahun depan.
"B45 itu kita enggak pernah melakukan testing, tapi ini ada kajian memang di segmen 5 persen juga. Jadi, kita nunggu kajian juga. Kemarin kajian baru pelaporan, kita masih kritisi banyak," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi, Kamis, 18 September.
Sambil berjalan, Eniya memastikan akan terus mengjar implementasi B50. Adapun keputusan implementasi B50 masih tetap menjadi kewenangan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
"Kalau saya mempersiapkan sesuai harapan Pak Menteri, mempersiapkan B50, mempersiapkan secara teknis ya. Nah nanti keputusan kan di pak menteri setelah kajiannya selesai," jelas Eniya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan B50 baru bisa dilakukan setelah mempertimbangkan kesiapan dari suplai minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BBN).
BACA JUGA:
Lebih lanjut, Yuliot mengatakan, yang menjadi tantangan terbesar dari percepatan implementasi B50 adalah suplai bahan bakar nabati, khususnya Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
"Jadi, ini kan kapasitas BUBBN-nya ini kan juga terbatas. Jadi ya kita juga berusaha untuk meningkatkan produksi FAME-nya. Jadi kan harus inline antara fame dengan program B50, kalau dimungkinkan dipercepat, ya kami akan lakukan percepatan untuk implementasi B50," imbuhnya.