JAKARTA - Industri baja dalam negeri makin tertekan. Masuknya baja dari luar negeri bukan hanya menggerus industri dalam negeri, tapi juga mengancam mata pencaharian ribuan pekerja.
Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) Budi Harta Winata mengungkapkan serbuan baja impor ini membuat pabrik di Surabaya, Jawa Timur gulung tikar.
“Ispatindo, Surabaya (tutup). (Karyawan yang terdampak) ribuan. Dari tahun lalu 2024 (tutup),” katanya dalam konferensi pers, di Jakarta, Jumat, 12 September.
Bahkan, Budi bilang berdasarkan informasi yang diterima, ada satu pabrik di wilayah Bekasi, Jawa Barat yang juga terancam gulung tikar.
“Yang di Bekasi juga sudah mau tutup katanya tuh,” tuturnya.
Budi juga mengkritik tren investasi asing langsung atau FDI. Dia bilang investasi tersebut tidak memberikan efek berganda bagi ekonomi lokal.
Lebih lanjut, Budi bilang kondisi ini berbeda dengan sebelumnya, dimana ketika ada investasi masuk maka akan melibatkan pelaku usaha untuk pembuatan pabriknya.
“Artinya, dengan ada investasi dalam hal ini, kita enggak dapat kerjaan apa-apa juga. Nonton doang aja,” ucapnya.
BACA JUGA:
Budi bilang, jika serbuan baja impor ini tidak segera diatasi maka akan berdampak pada keberlangsungan industri baja dalam negeri. Termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Dampaknya adalah kehilangan mata pencarian para welder-welder yang selama ini kerja bersama kami. Kehilangan para pekerja-pekerja khususnya di bidang konstruksi baja. Karena di kami, 98 persen karyawan itu kami didik dari nol,” katanya.
“Jadi kami ini seperti Balai Latihan Kerja (BLK). Artinya, dengan maraknya konstruksi baja masuk dari luar ini, mereka tidak ada kerjaannya lagi sekarang,” sambungnya.