JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait pasokan gas ke industri yang sempat mengalami penurunan pasokan beberapa waktu lalu.
Menurutnya, saat ini pasokan gas ke industri sudah kembali seperti sebelumnya setelah pemerintah dan penyedia gas melakukan berbagai upaya.
"Jadi sebenarnya gak ada masalah sampai sekarang, kan? Dan sudah ada clear," ujar Bahlil kepada awak media, Jumat, 22 Agustus.
Bahlil menjelaskan, pemerintah telah melakukan pengalihan terhadap sebagian gas yang diekspor untuk memenuhi kebutuhan gas domestik. Apalagi, sebelumnya terjadi ledakan di sumur minyak atau Gasline CO2 Removal Stasiun Pengumpul Subang, Desa Cidahu, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
"Jadi sebagian yang dari ekspor kita tidak lakukan. Kemudian kita supply untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terkait dengan pipa plumbing yang agak sedikit terbakar," beber Bahlil.
BACA JUGA:
Sebelumnya Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengaku, pihaknya menerima banyak surat dan laporan dari industri pengguna HGBT yang merasakan dampak pembatasan volume pembelian gas dengan HGBT menjadi 48 persen dari sebelumnya 60 persen yang diberlakukan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).
Pengetatan pasokan gas dengan harga khusus, menurut Febri, akan berimbas luas terhadap keberlangsungan industri manufaktur. Gangguan suplai dan tingginya surcharge gas, seperti tarif yang dikenakan PT PGN sebesar 16,77 dolar AS per MMBTU, memberatkan pelaku usaha, terutama di sektor padat energi, seperti industri keramik, kaca, baja, pupuk, petrokimia dan oleokimia.