Bagikan:

JAKARTA - Equities Specialist DBS Group Research Maynard Arif mengungkapkan pasar saham Indonesia menunjukkan rotasi menarik ke saham-saham big caps berkualitas yang dinilai lebih tahan terhadap volatilitas global.

"Meskipun indeks LQ45 dan IDX30 mengalami kinerja di bawah rata-rata hingga Juli 2025, valuasi pasar saat ini masih relatif menarik dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, sehingga membuka peluang bagi investor yang mencari stabilitas sekaligus potensi pertumbuhan," ujarnya dalam keterangannya, Kamis, 21 Agustus.

Dia menambahkan,  aliran modal asing (FDI) yang sempat mereda diperkirakan akan kembali mengalir ke pasar domestik pada paruh kedua tahun ini, seiring adanya ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Meski demikian, ia menyampaikan investor harus tetap waspada terhadap potensi volatilitas jangka pendek yang mungkin muncul akibat dinamika kebijakan moneter global dan risiko geopolitik.

Maynard menambahkan nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah akan mengalami konsolidasi dalam jangka pendek, lantaran pergerakan dolar AS terhadap Rupiah tercatat mengalami koreksi signifikan dalam dua bulan terakhir setelah mencapai puncak saluran harga, seiring dengan dinamika pasar global dan sentimen terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

"Menanggapi fenomena tersebut, DBS Group Research memproyeksikan dalam jangka pendek, nilai tukar USD/IDR akan mengalami konsolidasi, mencerminkan stabilisasi pasar sekaligus adaptasi terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan kondisi ekonomi domestik Indonesia," tuturnya.

Selain itu, Foreign Direct Investment (FDI) diperkirakan akan mulai pulih seiring dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Adapun, imbal hasil obligasi Indonesia menunjukkan tren penurunan seiring dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Selain itu, tren ini didorong oleh limpahan permintaan dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), surplus likuiditas, serta minat investor terhadap instrumen berimbal hasil tinggi.

Kemudian, permintaan obligasi terutama terfokus pada tenor pendek hingga menengah, sementara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun juga menurun, meskipun masih tertinggal dibandingkan tenor yang lebih pendek.

Adapun pergerakan ini menunjukkan respons pasar obligasi terhadap ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif serta kondisi likuiditas yang memadai di pasar domestik.

Di sisi lain, kondisi tersebut membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan penyesuaian kebijakan suku bunga sesuai perkembangan ekonomi.