JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Hubdat) mengungkapkan dalam satu jam ada sebanyak tiga orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Dirjen Perhubungan Darat Aan Suhaan mengatakan, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian tertinggi. Bahkan, masuk dalam kategori tiga besar setelah TBC dan HIV Aids.
“Tiga orang meninggal dunia, akibat kecelakaan lalu lnitas, jalan. Berarti dari laut nyumbang, dari kereta nyumbang, dari udara nyumbang. Tapi dari darat, itu setiap satu jam tiga orang meninggal dunia,” katanya dalam diskusi di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis, 20 Agustus.
Karena itu, menurut Aan, jumlah tersebut perlu dikurangi. Sebab, hal ini akan berdampak pada kemiskinan hingga masalah sosial lainnya.
“Dampaknya tidak hanya pada nyawa, tapi dampaknya pada kemiskinan, kepada masalah sosial, mungkin budaya. Ini sangat berdampak sekali,” ujarnya.
“Artinya kalau yang meninggal itu seorang bapak dari anak-anak, itu ada anak-anak yang jadi yatim. Kalau ibunya sama bapaknya meninggal dunia, ada anak yatim piatu. Itu potensial untuk terjadi kemiskinan,” sambungnya.
Untuk itu, sambung Aan, Kementerian Perhubungan membuat beberapa langkah mitigasi dalam menekan angka kecelakaan di jalan yang berdampak luas pada kemiskinan. Salah satunya, memastikan kendaraan-kendaraan yang beroperasi di Tanah Air telah melalui uji laik jalan maupun laik teknis.
Saat ini, kata Aan, Indonesia saat ini telah memiliki proving ground bertaraf internasional di Bekasi, Jawa Barat.
Aan bilang, setiap kendaraan yang akan dipasarkan secara massal harus lulus uji di tempat tersebut.
BACA JUGA:
Lebih lanjut, Aan bilang, proving ground yang baru dioperasikan pada awal Agustus 2025 ini membuat proses uji kelaikan menjadi sangat mudah.
Pasalnya, para perusahaan otomotif di Tanah Air bisa melakukan uji kelaikan di negeri sendiri per 7 Agustus 2025, sementara sebelumnya harus dikirim ke luar negeri.
“Kalau dulu sebelum tanggal 7 ini, para produsen kendaraan yang ada di kita, yang produksi di Indonesia, harus menguji kendaranya ke luar negeri. Ada yang ke Jepang, ada ke Eropa, ada ke Vietnam, Thailand. Saat ini kita sudah punya proving ground untuk menguji kendaraan yang akan diproduksi massal,” tuturnya.