JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, hingga triwulan I-2025, sektor industri manufaktur Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 10,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp169,4 triliun (asumsi kurs Rp16.290).
"Nilai ekspor manufaktur tercatat sebesar 52,9 miliar dolar AS atau 79,4 persen dari total ekspor nasional," ujar Agus melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 18 Juli.
Adapun berdasarkan data dari Trading Economics, kata Agus, pada Mei 2025, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 4,9 miliar dolar AS.
"Sementara itu, berdasarkan pemeringkatan dari World Visualize, surplus tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dunia setelah Tiongkok (103,22 miliar dolar AS) dan Jerman (17,8 miliar dolar AS). Posisi Indonesia ini (juga) di atas Rusia (4,5 miliar dolar AS) dan Malaysia (3,5 miliar dolar AS)," tambahnya.
Sementara itu, sebagai sektor penyumbang ekspor di bidang nasional, Agus menyampaikan, nilai ekspor sektor industri manufaktur sepanjang 2024 sebesar 196,5 miliar dolar AS.
BACA JUGA:
Angka tersebut tumbuh 5,11 persen dari ekspor industri nasional pada 2023 yang mencatat nilai 186,9 miliar dolar AS.
"Angka positif pencapaian kinerja sektor manufaktur nasional, yang diperkuat dan bersumber dari berbagai lembaga internasional itu mencerminkan struktur industri manufaktur Indonesia kuat dari hulu ke hilir. Artinya, Indonesia tidak pernah terjadi fase deindustrialisasi," tutur dia.