Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, hingga Juli 2025 baru mencapai 15,25 persen. Sebelumnya, sepanjang tahun 2024, bauran energi bersih Indonesia hanya tercapai sebesar 14,68 persen.

"Dan ini kita lihat bauran 2024 hanya 14,68. Per hari ini baru 15,25. Berarti akhir tahun baru 15,90-an atau 16 persen bauran EBT di energi mix," ujar DIrektur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiyani Dewi yang dikutip Jumat, 18 Juli.

Dengan bauran energi yang baru mencapai 15 persen, Eniya menyebut target bauran energi sebesar 23 persen pada tahun 2025 tidak dapat tercapai.

"Sebenarnya tahun ini tapi tidak pernah tercapai roadmap itu," sambung Eniya.

Menyadari target bauran yang masih mandek, Eniya memutuskan untuk mengubah metodenya dengan melibatkan pelaku usaha sebelum pemngambilan keputusan terkait target. Eniya bilang, sebelum merumuskan target kebijakan, dirinya terlebih dahulu memanggil pelaku usaha penyedia EBT untuk menanyakan kesanggupan dalam mengejar target yang diminta oleh pemerintah.

"Sekarang saya balik cara membuat roadmapnya. Hidrogen juga begitu. Bioetanol. Siapa yang sanggup? Dan tahun berapa? Jadi kita balik begitu," sambung Eniya.

Eniya mengakui jika target bauran energi tersebut tidak bisa tercapai dan baru akan terwujud di tahun 2030. Untuk itu, target bauran energi ini juga sudah diubah dan disesuaikan dengan konsep dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

"RUPTL itu sampai 2034 itu ada 42, 6 GW. Jadi 7 persen ketenagalistrikan dalam 10 tahun ke depan, itu 71 persen sudah EBT," tandas Eniya.

Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menurunkan target bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer nasional pada 2025, dari 23 persen menjadi antara 17–20 persen.