JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengajukan usulan agar pencairan subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) kepada PT Pertamina (Persero) bisa menggunakan valuta asing (valas).
Adapun permintaan itu diajukan ke pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.
Menurut Erick, Sri Mulyani sudah memberikan lampu hijau.
“Kita sedang lobi lagi dari Menteri Keuangan yang sudah juga oke. Untuk subsidi kompensasi ini bisa dibayarkan dengan valuta atau dolar atau pun nanti keputusannya seperti apa,” kata Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, ditulis Rabu, 9 Juli.
Selain itu, Erick juga minta agar pencairan subsidi dan kompensasi BBM kepada Pertamina bisa dipercepat, dari sebelumnya bisa mencapai 2 tahun menjadi 6 bulan.
Erick menyampaikan permintaan tersebut seiringan dengan pengajuan tambahan anggaran Kementerian BUMN untuk tahun anggaran 2026 sebesar Rp454 miliar, dari pagu indikatif 2026 sebesar Rp150 miliar.
Sehingga total anggaran di tahun depan bisa mencapai Rp604 miliar.
“Kementerian BUMN kita memerlukan pendanaan kurang lebih Rp604 miliar,” ucapnya.
Kawal Penugasan BUMN
Nantinya, kata Erick, tambahan anggaran tersebut akan alokasi untuk mendukung program kerja Kementerian BUMN dan mengawal penugasan pemerintah.
“Penugasan pemerintah, termasuk hapus buku, hapus tagih. Belum lagi nanti dari Danantara ada rencana restrukturisasi. Itu juga nanti kami akan mendampingi dan membantu dari kegiatan Danantara,” jelas Erick.
Selain itu, kata Erick, anggaran tambahan tersebut akan memberikan timbal balik ke depan bagi negara.
Dengan peningkatan performa, Erick yakin BUMN akan memberikan dividen yang besar kepada negara melalui Danantara.
“Nah jadi kita tidak istilahnya membebani keuangan negara. Tapi kita yakini kita juga akan memberikan kontribusi tambahan kepada negara,” ujar Erick.
BACA JUGA:
Tak hanya itu, Erick juga menyinggung mengenai upaya perbaikan kinerja BUMN yang berstatus perum.
Erick mengatakan, BUMN Perum juga akan menyumbang dividen untuk negara.
“Nanti Perum saya yakin ke depan ada dividen juga. Kita proyeksi mungkin dari Perum bisa Rp200 hingga Rp300 miliar, kita akan kasihkan ke negara juga,” katanya.