JAKARTA - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi membuka peluang bagi maskapai Indonesia yang ingin memiliki pesawat Boeing hasil pengembalian China ke Amerika Serikat (AS).
“Dimungkinkan, pastinya dimungkinkan. Ternyata memang Airline membutuhkan, kemudian pesawat yang tersedia, harganya pas dan sebagainya, kenapa tidak gitu,” tuturnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, ditulis Kamis, 24 April.
Dudy bilang bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada maskapai. Meski begitu, menurut dia, peluang ini bagus untuk menambah jumlah pesawat di Indonesia apalagi jika harganya juga terjangkau.
“Kita serahkan ke Airline. Kalau Airline memandang bahwa dengan kondisi mereka bisa mendatangkan pesawat, atau memanfaatkan situasi itu, mungkin bagus karena kita kan memang masih membutuhkan pesawat yang lebih banyak,” ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta maskapai pelat merah untuk menjajaki pengadaan pesawat dengan produsen pesawat asal AS, Boeing. Rencana ini, berangkat dari Indonesia yang kekurangan armada pesawat.
Adapun maskapai pelat merah yang dimaksud adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Citilink Indonesia, dan PT Pelita Air Service.
Erick bilang idealnya pesawat di Indonesia berada di angka 700 unit. Namun, setelah pandemi COVID-19 jumlah pesawat di Indonesia mengalami penurunan hingga tersisa sekitar 390 armada.
Kondisi tersebut juga disampaikan Erick Thohir secara langsung kepada pihak Boeing saat pertemuan bilateral dengan Asian American Chamber of Commerce hari ini di Kantor Kementerian BUMN.
BACA JUGA:
“Kita mendorong kerja sama ini. Bahkan salah satunya kita terbuka menambah jumlah pesawat terbang melalui Boeing. Tapi bagaimana roadmap pengadaannya lalu leasing-nya dan macam-macamnya,” katanya dalam konferensi pers di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis, 5 Desember.
Terkait dengan pengadaan armada pesawat ini, Erick mengaku akan berdiskusi dengan bank ekspor impor AS, Exim Bank maupun dengan pihak lessor pesawat.
Namun, belum ada kepastian kapan jumlah armada maupun nilai pengadaannya yang disepakati antara maskapai BUNN dengan Boeing. Sebab, hal ini menyesuaikan peta jalan dari masing-masing maskapai dan produsen.
“Saya tawarkan bagaimana misalnya Exim Bank-nya, leasing company-nya bisa bernegosiasi langsung dengan Garuda, Citilink, dan Pelita. Tetapi sesuai dengan roadmap masing-masing maskapai, itu yang kita lakukan,” tuturnya.