Bagikan:

JAKARTA - Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau The Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) was-was efek dari perang tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China, justru akan membuat pasar Indonesia dibanjiri produk China.

Chairman IISIA, M Akbar Djohan mengatakan meski industri baja dalam negeri tidak terdampak langsung kebijakan proteksionisme perdagangan AS, karena pasar ekspor baja ke Paman Sam masih kecil.

Namun, sambung Akbar, perang tarif impor ini akan membuat China enggan menjual produknya ke pasar AS, dan mencari pasar alternatif seperti Indonesia. Kondisi ini tentunya akan membuat produk baja lokal kalah saing.

Apalagi, lanjut Akbar, China merupakan negara penghasil produk besi dan baja terbesar di dunia. Dimana angka produksinya mencapai 1,2 miliar ton per tahun.

“Dampak dari adanya tarif yang dikeluarkan Presiden AS tidak berdampak langsung kepada kita. Tapi yang perlu diantisipasi produk-produk (China) yang harusnya ke AS. Ini pasti mencari pasar, salah satunya Indonesia,” katanya di Kantor PT Krakatau Steel, Jakarta, Jumat, 11 April.

Menurut Akbar, kondisi tersebut ini perlu diantisipasi oleh Indonesia. Apalagi, dia bilang global supply chain atau rantai pasok global tidak dapat dicegah.

“Ini yang perlu kita antisipasi, global supply chain tidak bisa dicegah dan di luar kontrol kita,” ucapnya.

Karena itu, Akbar mengatakan pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait perlu mengambil tindakan untuk menekan arus besi dan baja impor. Menurut dia, kebijakan ini diperlukan untuk menciptakan persaingan yang adil dan juga memberi ruang produsen dalam negeri berkembang.

Akbar khawatir para pengusaha memilih menutup pabrik dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal jika tidak ada perlindungan yang maksimum dari pemerintah.

“Yang kita khawatirkan, para industriawan, kalau tidak kita beri perlindungan yang maksimum, industriawan ini dan industrinya akan tutup dan terjadi PHK massal. Dan pasti PHK masalah ini akan tidak memberi situasi keamanan yang kondusif di setiap negara,” ujar Akbar.