Bagikan:

JAKARTA - Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menyampaikan pergerakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, 10 Februari.

Ariston menyampaikan, data ekonomi AS yang rilis di akhir pekan kemarin masih menunjukkan kondisi ketenagakerjaan AS yang masih solid dan peluang kenaikan inflasi.

Arisron menyampaikan data tingkat pengangguran AS bulan Januari turun di 4 persen dibandingkan sebelumnya 4,1 persen, data kenaikan upah rata-rata naik 0,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya 0,3 persen, data ekspektasi inflasi naik 4,3 persen dibandingkan sebelumnya 3,3 persen.

"Hasil data ini tentu saja mendukung penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya," ujarnya kepada VOI, Senin, 10 Februari.

Ariston menyampaikan pagi ini indeks dolar AS sudah di kisaran 108.35, dibandingkan Jumat Pagi sebelumnya di kisaran 107.77.

Menurutnya penguatan dolar AS juga masih didukung oleh ekspektasi pasar terhadap kemungkinan perang dagang karena kebijakan kenaikan tarif impor Presiden Trump.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin, 10 Februari, berpotensi melemah terhadap dolar AS ke arah level Rp16.350 per dolar AS dengan potensi support ke level Rp16.250 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar Rupiah hari Jumat, 7 Februari 2025, Kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,36 persen di level Rp16.283 per dolar AS. Sementara, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup naik 0,03 persen ke level harga Rp16.325 per dolar AS.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+