Bagikan:

JAKARTA - Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan, wacana pemangkasan produksi nikel dalam negeri bisa menyebabkan harga nikel meroket.

Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menjelaskan, berdasarkan kajian Macquarie London, jika terjadi pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) sebesar 150 juta ton diperkirakan harga nikel akan menyentuh angka 20.000 dolar AS per ton.

"Baru dikasih isu saja, dari Macquarie London sudah memberikan statement jika RKAB dipangkas sampai 150 juta ton, harga nikel akan menyentuh 20.000 dolar AS per ton lagi, hari ini 15.000 dolar AS per ton," ujar Meidy yang dikutip Kamis, 23 Januari.

Ia menambahkan, saat ini produksi nikel Indonesia menyumbang 63 persen dari total produksi global sehingga keberadaan komoditas ini diperhitungkan di mata global.

Di sisi lain RKAB nikel tahun 2025 yang telah disetujui pemerintah telah mencapai 298,490.000 ton.

"Persetujuan RKAB kita menentukan efek isu nikel dunia," imbuh dia.

Sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya tengah mengkaji total kebutuhan nikel dalam negeri.

Dengan evaluasi kebutuhan ini, kata dia, pemerintah dapat mengetahui dengan pasti berapa banyak RKAB untuk komoditas nikel yang akan disetujui.

"Saya sama Dirjen Minerba dan tim dari kementerian lagi mengkaji berapa total kebutuhan nikel. Dari berapa total kebutuhan nikel Kemudian kita bisa lihat RKAB-nya berapa," ujar Bahlil yang dikutip Senin, 6 Januari.

Bahlil menambahkan, kajian ini dilakukan agar keseimbangan antara produksi dan kebutuhan industri dapat terjaga sehingga harga nikel stabil.