JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan rencana untuk memangkas produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang pada 2026 ini menjadi 260 juta ton.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, produksi komoditas nikel ini dipangkas hingga 31 persen jika dibandingkan RKAB 2025 yang tercatat sebesar 379 juta ton.
"260-an (juta ton) sekitar kan gitu kan," ujar Tri dikutip Jumat, 13 Februari.
Tri juga menyoroti dampak positif dari kebijakan ini terhadap dinamika pasar.
Menurut dia, pengumuman pada 23 Desember 2025 tentang pemangkasan produksi menyebabkan respons pasar yang cepat dan kenaikan harga nikel.
"Pada tanggal 23 Desember 2025, saat Pak Menteri (Bahlil) mengumumkan akan melakukan pemangkasan terhadap produksi. Maka harga nikel langsung naik. Harga itu sampai sekarang dari 14.800 (saat oversupply), peak-nya pernah 18.800, tapi sekarang mungkin bisa dicek sekitar Rp17.000 something," ujar Tri.
BACA JUGA:
Menurutnya, reaksi pasar yang siginifikan tersebut memperlihatkan bahwa langkah penyesuaian produksi oleh Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia, memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar global.
"Bagi pemerintah, kebijakan RKAB yang lebih selektif diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan cadangan energi untuk masa depan," tandas dia.