JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita berharap, agar program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) atau harga gas murah untuk industri segera diberlakukan.
Menurut Agus, industri harus segera memanfaatkan program ini agar dapat tetap berproduksi.
"Saya kira harus segera berlaku, ya. Karena pabrik, kan, harus tetap berjalan. Jadi, gas yang dibutuhkan itu, kan, tetap harus ada dan tersedia," ujar Agus di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 17 Januari.
Adapun HGBT sendiri merupakan kebijakan pemerintah untuk menetapkan harga gas bumi yang lebih murah untuk beberapa sektor industri.
Kebijakan yang diberlakukan sejak 2020 untuk tujuh sektor industri dengan harga gas sebesar 6 dolar AS per MMBtu itu telah berakhir pada 31 Desember 2024.
Kementerian ESDM pun telah memberikan sinyal bahwa program HGBT untuk tujuh sektor industri akan tetap dilanjutkan pada tahun ini. Namun, hal tersebut belum dapat dipastikan kapan mulai berlaku.
Oleh karena itu, harga gas industri dikenakan tarif komersial. "Ini masalahnya banyak industri yang komitmennya rendah dari PGN," tegas Agus.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan, pentingnya program HGBT atau harga gas bumi murah untuk industri tetap dilanjutkan.
BACA JUGA:
Pasalnya, program HGBT sangat dimanfaatkan oleh pemain industri khususnya tujuh subsektor, yakni pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, gelas kaca dan sarung tangan karet.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri mengatakan, apabila program HGBT tidak dilanjutkan dikhawatirkan banyak industri yang terperosok sehingga berimbas pada turunnya indeks manufaktur atau Purchasing Manager Index (PMI).
"Hasil riset Ekonom UI juga menyatakan kalau harga gas bahan baku industri naik, PMI akan tertekan dan mungkin bisa kontraksi. Tapi kalau harga gas turun, industri bergairah dan PMI bisa naik. Tentu kami berharap harga gas untuk industri tetap di harga 6 dolar AS dan suplainya lancar," ujar Febri saat ditemui wartawan di kantor Kemenperin Senin, 13 Januari.