Bagikan:

JAKARTA – Liputan menyedihkan oleh seorang reporter stasiun televisi soal bencana di Sumatera menyita perhatian masyarakat. Sang reporter tampak menangis ketika memberitakan kondisi sebenarnya di wilayah bencana.

Suasana siaran langsung televisi itu dari Aceh Tamiang mendadak berubah haru, ketika seorang repoter tak kuasa membendung emosinya saat melaporkan kondisi terkini bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Dalam video yang beredar, reporter yang diketahui bernama Irine Wardhanie mengatakan setelah selama sepekan lebih menjalankan tugasnya di wilayah bencana, belum terlihat perubahan signifikan yang dirasakan masyarakat yang terdampak.

Ia juga menyoroti sulitnya warga mendapatkan kebutuhan dasar, terutama bagi anak-anak yang terdampak langsung bencana. Tangisnya pecah di tengah liputan, dan warganet pun turut merasakan kesedihan mendalam.

Foto udara pengendara melintasi jalan nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Peuribu, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025). (ANTARA/Syifa Yulinnas/foc/am)

Psikolog klinis Reza Indragiri Amriel ikut berempati pada sang reporter. Melihat tayangan video yang viral, Reza menyebut Irine mengalamicompassion fatigue.

“Keletihan yang amat sangat yang justru muncul dari begitu besarnya kepedulian yang ia berikan kepada masyarakat Aceh,” ucap Reza kepadaVOI.

Pemerintah Diklaim Tutupi Informasi

Bencana ekologis di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sudah berlalu selama hampir tiga pekan. Ribuan korban meninggal dunia, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNP), ratusan lainnya dinyatakan hilang, dan ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.

Namun sikap pemerintah dalam menangani bencana ekologis ini memantik kritik dari masyarakat.

Kepala BNPB Letnan Jenderal Suharyanto dinilai meremehkan besarnya skala bencana. Ia berujar bahwa bencana di ketiga wilayah tersebut tampak mencekam ketika informasi tersebar di media sosial.

Belum lagi soal anggota Komisi I DPR Endipat Wijaya yang mempersoalkan donasi publik yang dikoordinasikan creator konten Ferry Irwandi. Endipat malah membandingkan bantuan pemerintah yang diklaim mencapai triliunan rupiah dengan donasi warga sebesar Rp10 miliar untuk korban bencana.

Sedangkan Presiden Prabowo Subianto meyakini tak membutuhkan bantuan asing untuk menangani bencana di Sumatera. Menurutnya, dengan hanya tiga dari 38 provinsi yang terkena bencana, pemerintah tak perlu menetapkan status bencana nasional.

Presiden Prabowo Subianto menyapa warga korban banjir yang mengungsi ke GOR Pandan, di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Senin (1/12/2025). Kunjungan Presiden di GOR Pandan, Tapanuli Tengah, dilakukan untuk meninjau dapur umum, memastikan ketersediaan logistik, serta memantau kelancaran distribusi bantuan bagi para pengungsi. (Biro Pers Istana Presiden/Cahyo)

Saat pemerintah terlihat tak acuh pada korban bencana, masyarakat justru sebaliknya. Dukungan terus mengalir untuk warga yang terdampak, baik langsung maupun tidak langsung.

Pada 4 Desember, platformKitabisamengumumkan berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp31 miliar dari total 371.000 donatur untuk bencana Sumatera. Tak hanya itu, unggahan warganet di berbagai platform media sosial juga didominasi kemarahan kepada pemerintah lantaran kurang cekatan dalam mengatasi bencana.

Reza Indragiri Amriel mengkritik Prabowo yang terkesan menutupi informasi dan kondisi sebenarnya di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Di tengah bencana memang kerap dibanjiri oleh hoaks dan aneka misinformasi lainnya. Itu pula yang coba ditangkis Presiden Prabowo saat mengatakan ada pihak-pihak eksternal yang menyebar kebohongan tentang bencana Sumatera.

Tapi pasca menyaksikan liputan menyedihkan oleh reporter tersebut, Reza menduga soal kemungkinan bahwa presiden sendiri adalah pihak yang justru memproduksi kebohongan itu.

“Menyangkal, menimbun berita negatif, dan membesar-besarkan upaya yang telah dilakukan. Itukah yang pemerintah lakukan?” kata Reza.

Trauma Sekunder

Apa yang diutarakan Presiden dan jajarannya, justru berbanding terbalik dengan kondisi sebenarnya yang diungkap sejumlah akun media sosial. Terkini, wartawan televisi swasta nasional yang dengan gamblang memberikan gambaran soal kondisi pascabencana di Sumatera, khususnya Aceh.

Terlepas dari sikap pemerintah, Reza menegaskan tidak ingin berkeluh kesah tentang kepemimpinan presiden yang terkesan tidak begitu efektif dalam menghadapi bencana ekologis. Ia justru berempati kepada wartawan TV tersebut.

Wartawan tersebut sampai menangis ketika memberikan kondisi di Aceh. Melihat ini, Reza menilai Irine mengalamicompassion fatigue,yaitu keletihan yang amat sangat, yang justru muncul dari begitu besarnya kepedulian yang ia berikan kepada masyarakat Aceh. Ini berbeda denganburn outyang semata-mata kecapekan akibat kehabisan tenaga.

Compassion fatiguemenunjukkan bahwa korban bukan sebatas mereka yang dilanda banjir secara langsung. Saban hari melihat langsung situasi yang serba tidak menentu, menyimak kisah pilu para korban, ditambah lagi mendengar dusta demi dusta dari kalangan elit, pada gilirannya membuat si wartawan ikut jatuh dalam trauma. Trauma sekunder, tepatnya,” jelasnya.

Di samping wartawan, menurut Reza, ada korban-korban lain yang juga menderitacompassion fatigue. Pekerja kemanusiaan, tentara, dan polisi yang berjibaku di lapangan pun berisiko mengalami kepenatan dalam kepedulian serupa.

Ferry Irwandi, seorang YouTuber Indonesia sekaligus founder Malaka Project. (Instagram/irwandiferry)

"Benar, itu tanggung jawab sekaligus risiko profesional yang harus dipikul si wartawan. Tapi dia harus ditolong, dan tidak menutup kemungkinan pertolongan baginya perlu melibatkan profesional. Para jurnalis perlu diinsafi akan kemungkinan mengalamicompassion fatigue. Tekanan mental ini berbeda dengan intimidasi maupun suap," katanya lagi.

Bagaimana pun, kata Reza, sang wartawan telah menyingkap kebenaran. Kebenaran bahwa pers juga manusia yang bisa cedera batinnya. Kebenaran bahwa rakyat Aceh sengsara akibat bencana ekologis.

"Dan kebenaran bahwa segala perkataan pemerintah tentang apa yang telah mereka kerjakan tidak akan ada artinya dibandingkan dengan bendera putih yang rakyat Aceh kibarkan," pungkasnya.