Bagikan:

JAKARTA – Alat berat akhirnya diturunkan untuk melakukan proses evakuasi korban ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, setelah melewati fase golden time. Hal ini dilakukan karena tidak ada tanda-tanda kehidupan setelah 72 jam sejak kejadian.

Pondok Pesantren Al Khoziny runtuh pada Senin (29/9/2025) sekitar pukul 15:00 WIB. Bangunan ponpes yang runtuh ini masih dalam tahap renovasi.

Saat kejadian, para santri tengah melaksanakan salat ashar berjamaah di lantai dua yang difungsikan sebagai musala. Menurut pengasuh pesantren, KH Abdul Salam Mujib, bangunan yang ambruk itu memang masih dalam tahap renovasi.

Proses renovasi asrama santri putra ini telah berlangsung selama hampir sembilan bulan. Rencananya, bangunan ini memiliki tiga lantai dengan atap berupa cor semen, bukan genteng. Sejak pagi hingga pukul 12 siang di hari itu, atap lantai tiga yang ambruk baru saja dicor. Sebelum akhirnya roboh dan menimpa santri, Gedung tersebut diketahui sempat bergoyang.

"Setahu saya, pengecoran terakhir dilakukan tadi pagi sampai siang hari," kata Mujib.

Subdirektorat Mitigasi Crisis Center (SMCC) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat memberikan layanan konseling dan trauma healing kepada korban ambruknya mushalla Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo. (ANTARA/HO-Humas Unesa)

Tiga jam berselang, atap yang baru dicor tersebut tiba-tiba ambruk dan menimpa ratusan santri yang sedang menjalankan salat di lantai dua. Mereka yang berada di dalam musala terjebak di balik reruntuhan.

Kegagalan Konstruksi Total

Hingga Jumat (3/10), ketika alat berat diturunkan, Basarnas melaporkan ada sembilan korban yang meninggal dunia, sementara korban selamat sejauh ini tercatat 103 orang.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut peristiwa ini sebagai musibah, dan ia menegaskan akan mengambil tindakan untuk meminimalisir potensi terjadinya kembali kejadian serupa. Sedangkan KH Abdul Salam Mujid mengatakan kejadian tersebut sebagai takdir Allah.

Apa yang dialami Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo adalah peristiwa memilukan. Apalagi mayoritas korban adalah para santri yang sedang menuntut ilmu.

Sampai saat ini, penyebab utama ambruknya gedung ponpes masih menjadi tanda tanya. Publik mendesak agar dilakukan investigasi agar insiden serupa tak terjadi di kemudian hari.

Meski belum ada kesimpulan yang pasti, ada dugaan hal ini disebabkan kualitas bangunan yang tidak baik sehingga gagal menjamin keselamatan publik. Belum lagi soal kemungkinan bangunan gedung Ponpes Al Khoziny ini tanpa mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) alias berdiri tanpa dokumen resmi. Meski perlu digarisbawahi, adanya IMB tidak kemudian menjamin sebuah gedung aman.

Analisis sementara Tim SAR gabungan dan ahli konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengatakan gedung lantai tiga termasuk musala yang ambruk di Ponpes Al Khoziny terjadi akibat totally collapse kegagalan konstruksi total.

Ahli Struktur Bangunan Departemen Teknnik Sipil ITS Muji Hermawan menuturkan, jenis keruntuhan yang terjadi adalah pancake collapse, yaitu kondisi lantai-lantai bangunan runtuh secara vertikal dan bertumpuk satu sama lain. Pola inilah yang menyebabkan terciptanya celah-celah sempit sehingga menyulitkan proses evakuasi.

Overloading Condition

Sementara itu, Peneliti Struktur dari Technical University of Valencia, Spanyol, Andri Setiawan menjelaskan berbagai kemungkinan umum yang menyebabkan kasus seperti ini bisa terjadi.

Kemungkinan pertama, kata Andri, adalah ada kegagalan sistem pondasi akibat beban berlebih atau overloading condition. Ini bisa terjadi karena bangunan pesantren awalnya dirancang hanya untuk satu atau dua lantai saja. Namun kemudian ada penambahan lantai tanpa kajian ulang terhadap desain awal gedung.

Sementara kemungkinan lainnya adalah kegagalan sistem penopang (shoring system) yang berfungsi untuk menahan berat beton cair saat proses pengecoran. Dikatakan Andri, beban yang berlebih dapat mengakibatkan sistem penopang tersebut patah di salah satu titik kritis, yang kemudian menimbulkan kegagalan penopang lain di sekitarnya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengingatkan, kejadian ini termasuk bencana akibat kegagalan teknologi yang perlu diantisipasi melalui penerapan standar keselamatan konstruksi secara ketat.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga mendesak agar dilakukan evaluasi secara menyeluruh dalam upaya membangun ruang yang aman bagi seluruh peserta didik, termasuk para santri yang menimba ilmu di pondok pesantren.

Menteri Agama Nasaruddin Umar (ketiga dari kanan) saat meninjau musala ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (30/9/2025). (ANTARA/HO-Kemenag/pri)

Kejadian yang menimpa Ponpes Al Khoziny menjadi alarm soal pentingnya memperhatikan standar kelayakan bangunan yang mengedepankan keselamatan anak. Merancang bangunan yang aman, apalagi fasilititas pendidikan, tiak hanya berdampak positif terhadap fungsi bangunan, tapi juga menyelamatkan anak-anak.

Untuk itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono mendorong semua pihak dengan wewenang dan tanggung jawabnya masing-masing untuk fokus pada penanganan, khususnya evaluasi korban.

Menurut Aris, pihak pesantren harus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak terkait lain untuk penanganan, mulai dari pendampingan hingga pemulihan. Karena sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, penanganan kasus anak harus cepat, mulai dari pengobatan, pendampingan psikososial, hingga pemulihan secara komprehnsif.

“Regulasi sudah diatur jelas terkait kelayakan bangunan dan keselamatan anak. Maka catatannya terletak pada implementasi dan kepatuhan yang masih perlu dioptimalkan, termasuk memaksimalkan pengawasan,” kata Aris.

Ia juga melantunkan harapannya agak ke depan, santun pendidikan, tidak hanya pesantren, memperhatikan standar kelayakan bangunan yang mengedepankan keselamatan anak, serta dilakukan uji kelayakan, monitoring dan evaluasi berkala.