JAKARTA – Tanggung jawab mengatur jarak kelahiran hampir selalu dibebankan kepada perempuan. Logika inilah yang membuat angka kontrasepsi pada laki-laki, termasuk vasektomi, sangat rendah.
Vasektomi menjadi sorotan dalam beberapa bulan ke belakang setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadikan kontrasepsi ini sebagai syarat penerima bantuan sosial (bansos).
Namun wacana tersebut menjadi kontroversi. Ketua Komnas HAM Atnike Nova Sigiro menegaskan, vasektomi adalah hak pribadi yang tidak boleh dipaksakan, apalagi dijadikan syarat mendapat bansos.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar juga menyebut vasektomi haram jika dilakukan tanpa alasan syar’i.
Di sisi lain, vasektomi juga masih dianggap tabu di kalangan masyarakat luas. Vasektomi disebut-sebut memiliki sejumlah efek samping bagi laki-laki, mulai dari memengaruhi gairah dan performa seks, sampai berisiko menyebabkan penyakit.
Vasektomi Paling Tidak Populer
Program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan angka kelahiran dan membangun keluarga yang lebih berkualitas sejatinya adalah tanggung jawab bersama, yaitu laki-laki dan perempuan. Namun kenyataannya, selama ini tanggung jawab pencegahan kehamilan lebih banyak dibebankan di pundak perempuan.
Menurut riset Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) atau sekarang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), perempuan lebih aktif berkontrasepsi yaitu mencapai 96,7 persen, semenetara laki-laki hanya 3,3 persen.
Hal ini sejalan dengan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang menyebut dua pilihan kontrasepsi laki-laki, yakni kondom dan vasektomi, menjadi jenis kontrasepsi yang paling jarang digunakan.
Disebutkan bahwa tingkat kepopuleran kondom dan vasektomi berada di urutan dua terbawah. Vasektomi menempati urutan terakhir (0,2 persen) setelah kondom laki-laki, sebesar 1,1 persen. Sisanya merupakan alat kontrasepsi perempuan.
BACA JUGA:
Kontrasepsi modern yang paling banyak digunakan adalah suntik hormonal 3 bulan (42,4 persen). Urutan kedua terpopuler adalah pil kontrasepsi (8,5 persen) dan IUD/AKDS/Spiral (6,6 persen). Selain ketiga jenis kontrasepsi tersebut, perempuan Indonesia juga lazim menggunakan suntik hormonal 1 bulan (6,1 persen), implan/susuk KB (4,7 persen), dan tubektomi (3,1 persen).
Secara umum, alat kerja kontrasepsi adalah memblokade sperma agar tidak bertemu sel telur. Kontrasepsi laki-laki deprogram untuk mengurangi jumlah sperma sampai mendekati kondisi azoosperma, atau tidak ada sperma pada cairan ejakulasi selama orgasme.
Vasektomi terbukti paling ampuh mengendalikan kehamilan. Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat menyebut kondom pria memiliki tingkat kegagalan 11-16 persen, sedangkan vasektomi hanya kurang dari 1 persen.
Kurangnya Pemahaman
Dokter spesialis urologi Nur Rasyid juga mengatakan hal yang sama. Ia menegaskan vasektomi telah terbukti 99 persen efektif mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Selain itu, prosedur vasektomi juga menurutnya lebih ringan, tanpa risiko, dan tidak akan mengganggu proses ereksi sama sekali.
Walau vasektomi dipastikan aman, masih banyak laki-laki yang ragu untuk melakukan kontrasepsi ini. Dokter Nur mengatakan, salah satu alasan yang membuat banyak laki-laki ragu melakukan kontrasepsi adalah adanya mitos dan kesalahpahaman yang diyakini sebagian orang.
Selama ini banyak anggapan bahwa vasektomi dapat meningkatkan risiko kanker prostat dan disfungsi ereksi. Namun dr. Nur menegaskan itu adalah klaim yang tidak berdasar. Selain soal rumor-rumor terkait kesehatan reproduksi pria, ada juga faktor sosial budaya yang ikut memengaruhi rendahnya angka vasektomi di Indonesia.
"Karena memang orang Indonesia umumnya paternalistik, jadi laki-laki mau menang sendiri. Lalu faktor pendidikan dan pemahaman soal ini yang juga masih kurang. 'Kalau bisa yang susah (pakai kontrasepsi) bukan saya, kenapa harus saya?'" kata dr. Nur Rasyid.
Meski dinilai sebagai kontrasepsi paling aman, namun vasektomi juga memiliki ‘kekurangan’. Dokter Nur Rasyid menyebut vasektomi adalah KB mantap. Dengan kata lain, KB ini sebaiknya dilakukan dengan keyakinan penuh untuk tidak memiliki anak lagi.
“Sebenarnya bisa (dikembalikan dengan) tindakan rekanalisasi. Tetapi prosesnya relative sulit karena nyambungnya harus pakai mikroskop dan biayanya lumayan mahal,” ia menjelaskan.
Selain itu, vasektomi juga tidak langsung efektif setelah melakukan tindakan medis. Karena itulah, penerimanya tetap menggunakan kondom selama sekitar tiga bulan atau sampai air maninya dipastikan bebas sperma berdasarkan pemeriksaan di laboratorium.
Ada juga peluang vasektomi memicu komplikasi berupa hematoma (pengumpulan darah di skrotum), granuloma sperma (benjolan yang disebabkan oleh kebocoran sperma), infeksi, serta nyeri testis jangka panjang.
Program Keluarga Berencana (KB) yang dikenalkan pemerintah pada 1970 untuk mengendalikan ledakan jumlah penduduk memungkinkan setiap pasangan mengatur jarak dan jumlah anak yang diinginkan. Namun, KB tidak bisa diwujudkan sendiri, misalnya hanya dibebankan kepada perempuan. Butuh komitmen yang sama, antara laki-laki dan perempuan, untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera.