Diplomat Arab Saudi Kecam Palestina Soal Kritik Normalisasi Israel-UEA, Tanda Perdamaian Arab-Israel?
Pangeran Bandar (kanan) dan Mantan Presiden AS George W. Bush (kiri)

Bagikan:

JAKARTA - Pimpinan Palestina mengkritik langkah perdamaian antara negara-negara Teluk Arab Saudi dan Israel. Diplomat Arab Saudi, Pangeran Bandar membalas kritikan itu dengan mengecam para pemimpin Palestina karena mengkritik langkah perdamaian itu. Apakah ini menjadi pertanda bahwa Arab Saudi dan Israel segera berdamai?

Mengutip BBC, para pemimpin Palestina menggambarkan normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel sebagai bentuk "pengkhianatan" dan "tikaman di belakang." 

Kritik itu pun dibalas oleh mantan kepala intelijen Saudi dan duta besar lama untuk Washington, Pangeran Bandar Bin Sultan al-Saud. Pangeran Bandar mengecam para pemimpin Palestina atas kritiknya terhadap langkah perdamaian tersebut.

“Perjuangan Palestina adalah penyebab yang adil tetapi para pendukungnya gagal, dan perjuangan Israel tidak adil tetapi para pendukungnya telah terbukti berhasil. Itu meringkas peristiwa 70 atau 75 tahun terakhir,” katanya dalam siaran wawancara bersama TV Al Arabiya.

Seperti diketahui, Pangeran Bandar telah menghabiskan waktu 22 tahun sebagai duta besar Saudi untuk Washington. Orang yang sangat dekat dengan mantan Presiden AS George W Bush, hingga mendapat julukan "Bandar Bin Bush" berbicara tentang kegagalan bersejarah kepemimpinan Palestina dalam menciptkan perdamaian.

"Ada kesamaan yang secara historis dimiliki oleh kepemimpinan Palestina berturut-turut: mereka selalu bertaruh di pihak yang kalah, dan itu harus dibayar dengan harga mahal."

Melansir Reuters, Senin 12 Oktober, Pangeran Bandar mencatat dukungan selama puluhan tahun dari raja-raja Saudi berturut-turut untuk perjuangan Palestina. Ia mengatakan bahwa rakyat Palestina harus ingat Arab Saudi selalu ada untuk mereka menawarkan bantuan dan nasihat.

"Tingkat wacana yang rendah ini bukanlah yang kami harapkan dari para pejabat yang berusaha mendapatkan dukungan global untuk perjuangan mereka," katanya.

Perlahan

Arab Saudi diperkirakan belum akan mengikuti jejak Uni Emirat Arab dan sekutu Teluknya Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain untuk normalisasi hubungan dengan Israel. Namun para ahli dan diplomat yakin Arab Saudi telah mulai mengubah wacana publik tentang Israel. 

Saat ini, Pangeran Bandar mengatakan fokus Arab Saudi tidak hanya mendukung Palestina. Kerajaan juga memiliki kepentingan sendiri dan keamanannya sendiri sambil mendukung perjuangan Palestina.

Selama bertahun-tahun, terutama di pedesaan, orang-orang Arab Saudi telah terbiasa memandang bukan cuma Israel sebagai musuh tapi juga semua orang Yahudi. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi informasi pertukaran informasi kian gencar. Pemikiran banyak orang semakin cair. 

Meskipun demikian, perlu waktu untuk membalikkan pandangan bahwa Yahudi merupakan musuh mereka (warga Arab Saudi). Karenanya pemerintah Arab Saudi terlihat tidak buru-buru untuk mengikuti tetangganya di Teluk Arab dalam membuat kesepakatan bersejarah dengan Israel.

Bertemu Ketua Kongres Yahudi

Sementara itu Ketua Kongres Yahudi Amerika, Ron Lauder, melakukan kunjungan mendadak ke Ramallah pada 11 Oktober untuk bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Lauder tiba dengan helikopter Yordania dan mengadakan pertemuan panjang dengan Abbas sebelum kembali ke Yordania.

Sumber Palestina di Ramallah mengatakan bahwa pertemuan itu difokuskan pada pembicaraan Palestina-Israel dan pemilu Palestina yang akan datang. Pertemuan itu dipercaya akan menguntungkan Organisasi Pembebasan Palestina. 

Sumber tersebut mengklaim bahwa Abbas mengatakan posisi Palestina merdeka dan tidak akan terhubung dengan poros politik mana pun. Sementara Abbas telah menawarkan diri untuk menghadiri konferensi internasional pada awal 2021. 

Abbas juga secara teratur menolak negosiasi apa pun berdasarkan rencana perdamaian yang dipromosikan oleh Presiden AS Donald Trump.