Sunyinya Prancis dari Wisatawan Imbas Aksi Mogok Pekerja
Foto Museum Louvre di Paris (Twitter @MuseeLouvre)

Bagikan:

PARIS - Sistem transportasi publik di Prancis terkena imbas dari aksi mogok terkait aturan baru pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Banyak perjalanan kereta yang dibatalkan. Orang-orang lebih memilih untuk berada di rumah. 

Jalan menuju Stasiun Gare du Nord, Paris, juga terpantau sepi pada pukul 8.30 pagi waktu setempat. Warga yang mau pergi ke tempat kerjanya, berangkat lebih awal. Jalan raya bahkan sudah terlihat padat mulai pukul 6.30 pagi. Warga yang tidak mau tetap berada di rumah berangkat lebih awal menggunakan sepeda, mengendarai mobil pribadi, atau jalan kaki. 

Di jalan-jalan Paris terlihat sepi, tidak ada bus, hanya ada sedikit taksi, lebih banyak sepeda daripada mobil. Tidak ada juga anak-anak yang berkerumun di trotoar dalam perjalanan ke sekolah, karena banyak sekolah diliburkan karena guru-guru yang ikut mogok. 

Pengelola Menara Eiffel dan Museum Louvre memperingatkan atas aksi pemogokan tersebut. Banyak turis yang batal kunjungi negara yang paling banyak dikunjungi di dunia ini karena khawatir kesulitan mendapatkan fasilitas umum. 

Terlepas dari sepinya jalan-jalan di Paris, kehidupan terus berjalan, dengan banyak kafe dan toko roti yang tetap buka. 

Perusahan kereta api penghubung London dengan Paris, Eurostar, mengatakan bahwa setiap detik ada jadwal yang dibatalkan. Sebanyak 16 perjalanan kereta untuk Kamis 5 Desember dan 21 keberangkatan untuk Jumat 6 Desember dibatalkan. 

"Saya sering melakukan perjalanan dengan rute ini (Paris-Lodon) dan biasanya, akan mengantre begitu panjang hingga menuruni tangga sebelum kereta. Sangat aneh bahwa tidak ada seorang pun di sini. Di mana semua orang?" ujar salah seorang penumpang asal Inggris yang hendak kembali ke London, dilansir dari France24, Kamis 5 Desember 2019. 

Namun sebenarnya hal-hal yang ditakutkan oleh orang-orang akan kesulitannya menggunakan transportasi publik tidak sepenuhnya terjadi. Seorang turis asal Spanyol mendarat di bandara Charles de Gaulle, Paris, dari New York pada pukul 7 pagi, naik kereta tanpa masalah.

"Saya sebelumnya khawatir ini akan menjadi mimpi buruk, bahwa kereta akan penuh sesak atau bahwa kereta Eurostar akan dibatalkan pada menit terakhir. Tapi ini adalah perjalanan termudah yang pernah saya alami," ujar wanita turis tersebut.

 

 

Aksi Mogok Besar di Prancis

Warga Prancis menentang reformasi pensiun yang diusulkan oleh pemerintah Prancis. Presiden Prancis Emmanuel Macron ingin merampingkan sistem pensiun saat ini yang terdiri dari 42 menjadi satu sistem operasi tunggal. Sistem baru ini akan memperkenalkan "sistem poin" pensiun, yang memicu banyaknya pensiun dini dari kalangan pekerja layanan publik.

Lebih penting bagi para pengunjuk rasa, reformasi akan berdampak pada berapa banyak uang yang mereka terima. Saat ini, uang pensiun pekerja sektor publik dihitung berdasarkan gaji yang mereka peroleh selama enam bulan terakhir bekerja. Para pensiunan juga akan dinilai berdasarkan 25 tahun terakhir bekerja. Sistem baru ini juga akan menghitung setiap tahunnya, yang berarti orang yang bekerja dengan gaji yang rendah selama bertahun-tahun akan mendapatkan uang pensiun yang sangat rendah.

Usia pensiun resmi juga telah dinaikkan dalam dekade terakhir dari 60 menjadi 62, tetapi masih menjadi salah satu yang terendah di antara kelompok negara-negara lain, di Inggris misalnya, usia pensiun adalah 66.

 

Sebelumnya warga Prancis telah melakukan mogok kerja, tepatnya pada September 2019 dan hari mogok tersebut dijuluki 'Black Friday'. Namun aksi mogok yang kedua kalinya ini disebut-sebut lebih besar karena mencakup semua anggota serikat di sektor-sektor utama yang terdiri dari layanan publik. Kedua, lima serikat pekerja besar di RATP (jaringan transportasi Paris) telah menyerukan "pemogokan kerja tak terbatas". Banyak serikat pekerja yang sudah memperingatkan bahwa pemogokan akan berlangsung selama seminggu, bahkan bisa saja hingga Natal. 

Mengatasi pemogokan tersebut dan mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi, pihak berwenang mengeluarkan larangan aksi di jalan Champs-Elysees, sekitar istana presiden, parlemen, dan Katedral Notre Dame.