JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio pada Hari Selasa mengatakan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang terluka dalam serangan AS-Israel dan belum terlihat di depan umum sejak menjabat, masih hidup dan semakin aktif.
Menlu Rubio memberikan kesaksian di depan panel Senat ketika pembicaraan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan yang telah melanda Timur Tengah dan memicu krisis energi global telah terhenti.
"Saya pikir ada indikasi di luar sana bahwa dia semakin aktif di beberapa tingkatan," kata Rubio kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, melansir Al Arabiya (3/6).
Mojtaba Khamenei (56) menggantikan ayahnya mendingan Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam gelombang pertama serangan AS-Israel yang melancarkan perang pada 28 Februari.
Menlu Rubio menyatakan harapan untuk kesepakatan dengan Iran, sambil menegaskan Tehran harus membatasi program nuklirnya secara ketat agar sanksi dapat dicabut.
Iran, lanjutnya telah setuju untuk menegosiasikan aspek-aspek program nuklirnya yang sebelumnya mereka tolak untuk dibahas.
"Ada prospek di hadapan kita, yang bisa terjadi hari ini, bisa terjadi besok, bisa terjadi minggu depan," jelas Menlu Rubio.
Ia mengatakan Tehran harus setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk minyak dan gas Teluk.
BACA JUGA:
"Mereka harus mengumumkan dengan sangat jelas 'Selat sekarang terbuka, kami tidak memungut biaya tol'. Kami akan membantu menyingkirkan ranjau yang mereka pasang di sana, dan mereka tidak akan menembaki kapal," jelasnya.
"Mereka harus setuju untuk menegosiasikan pembatasan yang ketat dan jangka panjang dan/atau pembatalan kegiatan pengayaan," lanjutnya.
"Iran dikenai sanksi karena mereka telah memperkaya uranium secara tinggi, Iran dikenai sanksi karena kegiatan nuklir mereka, jika mereka setuju untuk menghentikan hal-hal tersebut, akan ada pencabutan sanksi," tandasnya.