Bagikan:

BANDUNG – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyoroti masalah pelik menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Ia melihat ada keanehan di lapangan, stok hewan kurban melimpah, tetapi harga daging sapi di pasar tradisional justru melonjak naik.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat melalui sistem iSIKHNAS, stok hewan kurban tahun ini memang sangat banyak. Ketersediaan domba di Jabar naik tajam menjadi 223.812 ekor dari tahun lalu yang hanya 187.395 ekor.

Kondisi serupa terjadi pada stok sapi kurban yang naik menjadi 120.916 ekor dari tahun lalu yang sebanyak 99.565 ekor. DKPP Jabar mencatat, melimpahnya stok tahun ini salah satunya karena ada sisa hewan kurban tahun lalu yang belum laku terjual.

Namun, Iwan Suryawan mengingatkan pemerintah daerah agar tidak cepat berpuas diri dengan data di atas kertas tersebut. Menurutnya, tantangan nyata saat ini adalah menjaga daya beli warga yang mulai tertekan oleh mahalnya kebutuhan pokok.

"Kita bersyukur pasokan ternak kita melimpah berdasarkan data iSIKHNAS. Namun pemerintah daerah jangan tutup mata, niat warga untuk berkurban saat ini terbentur dengan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik," kata Iwan, Senin 25 Mei.

Data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) dan PIHPS Bank Indonesia di akhir Mei memang menunjukkan tren harga yang memberatkan konsumen.

Harga cabai rawit merah merangkak naik ke angka Rp82.000 per kilogram, dan bawang merah bertahan tinggi di angka Rp56.000 per kilogram.

Kondisi ini makin berat karena harga daging sapi untuk konsumsi sehari-hari ikut melonjak tembus Rp150.000 per kilogram. Kenaikan harga daging sapi ini dilaporkan terjadi di beberapa pasar di Jawa Barat, seperti Pasar Cicalengka, Pasar Soreang, serta Pasar Kordon dan Pasar Sederhana di Kota Bandung.

Sementara untuk wilayah Cirebon, aplikasi e-TUKU milik Pemkot Cirebon juga mencatat harga daging sapi murni stabil tinggi di angka Rp150.000 per kilogram.

Menurut Iwan, tingginya harga daging di pasar basah ini harus segera diatasi karena bisa menguras tabungan warga yang sebenarnya disiapkan untuk membeli hewan kurban.

"Lonjakan harga daging sapi sampai seratus lima puluh ribu rupiah di pasar-pasar tradisional Bandung dan Cirebon ini bikin pusing emak-emak jelang hari raya. Ini yang harus segera dibenahi pemerintah," tegasnya.

Iwan menilai salah satu akar masalahnya ada pada kurang tepatnya pengelolaan jalur distribusi dari peternak sampai ke pasar. Lonjakan harga musiman seperti ini harusnya bisa dicegah lebih awal jika dinas terkait sudah memetakan jalur logistik sejak jauh hari.

Ia menekankan, tugas dinas menjelang Iduladha bukan cuma sibuk memeriksa kesehatan hewan kurban di lapak pedagang. Pemberian sertifikat atau stiker sehat pada hewan memang wajib, tapi mengawasi stabilitas harga juga menjadi penentu keberhasilan pemerintah.

DPRD Jabar juga, kata Iwan, meminta pemerintah melindungi nasib peternak lokal di daerah. Sebab, melimpahnya stok kurban berisiko membuat harga jual peternak lokal anjlok jika masuknya hewan ternak dari luar provinsi tidak dibatasi secara adil.

"Dinas terkait harus melindungi peternak lokal kita di Jabar. Jangan sampai banjirnya pasokan dari luar daerah justru merusak harga jual peternak kita sendiri yang sudah keluar modal besar untuk pakan dan perawatan," tambah Iwan.

Oleh karena itu, Politisi PKS Jabar ini mendesak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Barat untuk segera menggelar operasi pasar secara besar-besaran. Program seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) harus langsung diarahkan ke wilayah yang harga pokoknya naik paling parah.

Dari sisi kesehatan, Iwan mengingatkan agar Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) tetap diperiksa ketat di pos perbatasan. Hal ini penting untuk memastikan hewan kurban yang masuk benar-benar bersih dari penyakit menular seperti PMK dan LSD.

Selain memeriksa hewan di lapak pedagang sebelum disembelih (antemortem), Iwan meminta pemda menyiagakan tim dokter hewan hingga hari H. Petugas ini penting untuk memeriksa kelayakan daging kurban setelah disembelih (postmortem) di masjid-masjid.

Iwan menyoroti masalah pembagian daging kurban yang saban tahun selalu menumpuk di area perkotaan padat atau sekitar perumahan besar saja.

"Kita butuh pemerataan. Distribusi daging kurban jangan cuma menumpuk di kota. Pemprov harus membuat sistem zonasi agar daging kurban ini sampai ke tangan masyarakat di pelosok desa yang lebih membutuhkan," jelasnya.

Iwan Suryawan menegaskan, Iduladha yang sukses adalah ketika ibadah berjalan lancar dan ekonomi masyarakat tetap stabil. Ia berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi jalur distribusi agar warga Jawa Barat bisa merayakan hari raya dengan tenang tanpa beban harga yang mahal.