JAKARTA - Maraknya kasus penjambretan di sejumlah wilayah Jakarta mulai memicu kekhawatiran soal keamanan Ibu Kota. Merespons hal tersebut, Kepala Satpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan mengakui keterbatasan personel masih menjadi kendala dalam pengawasan di lapangan.
Satriadi mengatakan patroli rutin sebenarnya terus dilakukan setiap hari, terutama di wilayah yang dianggap rawan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, luasnya wilayah Jakarta membuat pengawasan Satpol PP tidak bisa menjangkau seluruh titik secara maksimal.
"Dalam setiap giliran jaga, anggota selalu berpatroli ke wilayah-wilayah yang dianggap rawan gangguan keamanan dan ketertiban. Jadi patroli itu rutin dilakukan setiap hari sebagai langkah pencegahan," kata Satriadi kepad wartawan, Kamis, 21 Mei.
Meski demikian, dia mengakui kasus penjambretan umumnya berlangsung sangat cepat sehingga sulit dicegah di lapangan. Pelaku disebut langsung melarikan diri usai beraksi.
"Namun memang wilayah Jakarta cukup luas. Sementara kasus penjambretan biasanya berlangsung sangat cepat. Pelaku langsung beraksi lalu kabur, sehingga cukup sulit dideteksi kalau tidak tertangkap kamera atau CCTV. Kalau ada rekaman CCTV biasanya bisa lebih mudah dilacak," ujarnya.
Satriadi mencontohkan kasus penjambretan ponsel milik seorang warga negara asing (WNA) yang terjadi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Menurut dia, korban saat itu sedang memegang ponsel sebelum akhirnya dijambret pelaku yang langsung kabur dari lokasi.
"Karena itu kami juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada menjaga barang-barang pribadinya. Seperti kasus di kawasan HI misalnya, korban sedang memegang telepon genggam lalu tiba-tiba dijabret dan pelaku langsung melarikan diri," tutur Satriadi.
Dalam rapat bersama Komisi A DPRD DKI Jakarta sebelumnya, persoalan minimnya personel Satpol PP juga sempat disorot. Kondisi itu dinilai berpengaruh terhadap pola pengamanan di lapangan, termasuk sistem kerja shifting yang panjang.
Satriadi tak menampik jumlah personel Satpol PP masih terbatas. Karena itu, pengamanan di lapangan diperkuat melalui koordinasi dengan unsur Tiga Pilar hingga masyarakat.
BACA JUGA:
Satriadi menyebut keterlibatan warga juga terus didorong melalui pengaktifan kembali sistem keamanan lingkungan atau siskamling di sejumlah wilayah.
"Walaupun jumlah personel terbatas, kami tetap berupaya maksimal dengan melibatkan unsur TNI, Polri, Satlinmas, dan masyarakat agar keamanan lingkungan tetap terjaga bersama," ujar Satriadi.
Terkait sorotan soal keamanan Jakarta yang belakangan ramai diperbincangkan, Satriadi menegaskan tindak kriminal seperti penjambretan merupakan ranah kepolisian. Meski begitu, Pemprov DKI tetap memberi perhatian terhadap kondisi keamanan di masyarakat.
"Tetap menjadi perhatian Pak Gubernur bahwa Satpol PP juga harus ikut membantu menciptakan kondisi masyarakat yang aman dan kondusif. Karena itu kami terus memperkuat jajaran di wilayah dan meningkatkan keterlibatan masyarakat," tutur Satriadi.
Soal kemungkinan penambahan personel, Satriadi mengatakan usulan tersebut sudah disampaikan ke DPRD DKI Jakarta. Namun realisasinya masih bergantung pada kemampuan keuangan daerah dan keputusan pemerintah.
"Usulan penambahan personel sebenarnya sudah kami sampaikan, termasuk saat rapat di Komisi A DPRD DKI. Namun semuanya kembali bergantung pada kondisi keuangan daerah dan persetujuan lebih lanjut dari pemerintah," imbuhnya.