Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mendesak Israel segera membebaskan negara Indonesia (WNI) yang ditangkap saat bergabung dalam armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang tengah berlayar untuk menembus blokade laut Jalur Gaza, Palestina.

"Berdasarkan informasi terkini (07.13 WIB), 9 (sembilan) WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang tergabung dalam misi GSF 2.0, semuanya dilaporkan telah ditangkap Israel," kata Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang, Rabu (20/5).

Lebih lanjut Yvonne menerangkan, "Kementerian Luar Negeri bersama Perwakilan RI terus melakukan pendekatan intensif dengan otoritas setempat dan seluruh pihak terkait untuk memastikan pelindungan ke-9 WNI tersebut."

"Seluruh jalur diplomatik dan langkah kekonsuleran akan terus dimaksimalkan guna memastikan pelindungan penuh bagi para WNI dan mereka dapat kembali dengan selamat," ungkap Yvonne.

Diberitakan sebelumnya, militer Israel mencegat armada bantuan yang menuju Jalur Gaza, Palestina pada Hari Senin setelah berlayar dari Turki pekan lalu, dengan penyelenggara mengatakan salah satu kapal dihentikan di sebelah barat Siprus.

"Kapal-kapal militer saat ini mencegat armada kami dan pasukan IDF saat ini sedang menaiki kapal pertama kami di siang bolong," tulis Global Sumud Flotilla di X, melansir Al Arabiya dari AFP.

Armada Global Sumud terbaru adalah inisiatif ketiga dalam setahun yang bertujuan untuk mematahkan blokade Israel terhadap Gaza, yang telah mengalami kekurangan pangan, air, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023.

Armada yang terdiri dari 50 kapal berlayar dari Turki pada Hari Kamis pekan lalu. Sebelumnya, armada serupa telah dicegat Israel bulan lalu. Tahun lalu, armada serupa juga dicegat oleh Israel.

GPCI sendiri dalam keterangan resminya pekan lalu mengatakan sembilan orang WNI yang tergabung dalam misi kemanusian ini yakni, Ust. Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro, Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef, As’ad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1, Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1, Bambang Noroyono di Kapal BoraLize, Thoudy Badai Rifan Billah di Kapal Ozgurluk, Andre Prasetyo Nugroho di Kapal RIM, serta Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk.

Di sisi lain, Israel pada Hari Senin berjanji untuk memblokir kapal-kapal dalam armada tersebut, Otoritas Israel menolak klaim kekurangan bantuan, dengan mengatakan bahwa wilayah Palestina "dibanjiri" dengan pasokan.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji langkah Angkatan Laut Israel yang mencegat kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla pada Hari Senin.

Dikutip dariThe Times of Israel, pasukan komando AL Israel menaiki kapal pertama dalam konvoi kemanusiaan tersebut di laut lepas pantai Siprus.

"Indonesia mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan Internasional yang ditahan," tegas Yvonne menutup keterangannya.

Sebelum pencegatan pekan ini, pasukan Israel mencegat armada kedua di perairan internasional di lepas pantai Yunani pada 30 April dan mengirim sebagian besar dari 175 aktivis ke Eropa, tetapi menangkap dua di antaranya, yang ditahan selama 10 hari sebelum dideportasi.

Tahun lalu, otoritas Israel memblokir upaya serupa yang melibatkan sekitar 50 kapal dan sekitar 500 aktivis, termasuk aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, dan beberapa anggota parlemen Eropa.