Bagikan:

BOGOR – Industri herbal dan jamu tradisional Indonesia kini tengah menghadapi ancaman serius di balik status menterengnya sebagai negara megabiodiversitas. Tingginya angka salah identifikasi misidentifikasi spesies tanaman obat di pasar tradisional disinyalir dapat meruntuhkan reputasi produk lokal di pasar internasional.

Berdasarkan data riset, tingkat kesalahan identifikasi spesies tanaman obat, khususnya genus Curcuma (temu-temuan) di pasar tradisional Asia, kini berada di angka yang mengkhawatirkan, yakni mencapai 30 hingga hampir 50 persen. Kondisi ini memicu alarm keras bagi masa depan hilirisasi dan tata kelola keanekaragaman hayati nasional.

Staf HCID SEAMEO BIOTROP, Dewi Rahmawati, mengungkapkan bahwa metode konvensional yang selama ini diandalkan masyarakat untuk mengenali tanaman obat seperti melihat warna, bentuk rimpang, dan aroma sudah tidak lagi memadai. Banyak spesies yang berkerabat dekat memiliki tampilan visual yang nyaris kembar identik, namun memiliki kandungan senyawa aktif yang berbeda total.

"Dua rimpang di pasar mungkin tampak sama. Namun di balik warna kebiruan dan aroma rempah yang khas, tersimpan perbedaan biologis yang menentukan khasiat, keamanan, bahkan nilai ekonomi sebuah komoditas. Melindungi dan memanfaatkan biodiversitas selalu dimulai dari satu hal mendasar, memastikan kita tahu persis apa yang kita miliki hingga ke tingkat DNA," kata Dewi Rahmawati, Selasa, 19 Mei 2026.

Sebagai contoh konkret, Dewi menunjuk fenomena perdagangan "kunyit hitam" di pasar tradisional. Banyak pedagang dan pembeli menyamakan dua rimpang yang sama-sama berwarna gelap kebiruan. Padahal secara ilmiah, keduanya bisa jadi merupakan dua spesies yang berbeda, yakni Curcuma caesiadan Curcuma aeruginosa.

Kekeliruan identifikasi ini berdampak sistemik pada industri herbal modern. Selain memicu perbedaan khasiat dan memunculkan potensi risiko keamanan bagi konsumen, celah ini juga menyuburkan praktik pemalsuan (adulteration) serta substitusi spesies di tingkat rantai pasok.

Dampaknya pun langsung menghantam sektor ekonomi makro. Data International Trade Centre (ITC) mencatat ekspor global produk berbasis Curcuma terus meroket hingga menembus 2,3 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 18 persen per tahun.

Indonesia sendiri merupakan salah satu pemain utama dunia yang berhasil mengapalkan lebih dari 142.000 ton rimpang Curcuma. Namun ironisnya, hanya sekitar 23 persen dari total komoditas ekspor tersebut yang mengantongi dokumentasi identifikasi spesies yang akurat. Ketidakakuratan ini dinilai menjadi titik lemah yang menggerus daya saing produk herbal Indonesia di tengah ketatnya tuntutan transparansi global.

Menjawab tantangan tersebut, SEAMEO BIOTROP kini tengah mendorong implementasi teknologi DNA barcoding multi-lokus sebagai solusi mutakhir. Teknologi penanda genetik ini bekerja layaknya "sidik jari biologis" yang mampu membedakan jenis tanaman obat hingga tingkat spesies secara presisi menggunakan kombinasi marker seperti rbcL, matK, psbK-psbI, dan trnL-trnF.

Integrasi teknologi molekuler ini dinilai mendesak untuk segera diterapkan di Indonesia, baik sebagai alat skrining bagi regulator seperti BPOM dan bea cukai, maupun standar audit bahan baku bagi industri fitofarmaka.

Ke depan, Indonesia dituntut untuk segera membangun ekosistem identifikasi tanaman obat nasional yang terintegrasi. Ketepatan identifikasi berbasis DNA ini harus diubah menjadi standar minimum operasional, bukan lagi sekadar pilihan tambahan, demi mengamankan kedaulatan obat tradisional sekaligus posisi Indonesia di pasar global.