Bagikan:

MAKASSAR — Indonesia dan Prancis memperkuat kerja sama kebudayaan lewat sastra dan literasi. Agenda itu dibahas dalam Connection Night di sela Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 di Makassar, Jumat, 15 Mei.

Kegiatan yang digelar Kementerian Kebudayaan RI bersama Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia itu menjadi tindak lanjut pertemuan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard di Paris pada 22 April 2026.

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis, mengatakan kerja sama ini diarahkan untuk membuka akses lebih luas bagi karya sastra Indonesia di tingkat global.

Menurut Anissa, Indonesia dan Prancis akan mempertemukan dua program besar. Pemerintah Prancis membawa Choix Goncourt Indonésie. Pemerintah Indonesia mendorong program Read Indonesia dan Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra.

“Kita akan ‘mengawinkan’ dua program besar, yaitu program Choix Goncourt Indonésie dari Pemerintah Prancis dengan program Read Indonesia serta Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra dari Pemerintah Indonesia,” kata Anissa.

Ia menyebut kehadiran delegasi Prancis di MIWF tahun ini sebagai langkah awal penting untuk menjalankan kerja sama tersebut.

Anissa menegaskan Connection Night bukan hanya acara pertemuan. Forum itu dipakai untuk membangun jejaring penulis, seniman, penerbit, pengelola festival, dan pemangku kepentingan budaya dari kedua negara.

“Kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan kolaborasi yang konkret, mulai dari pertukaran budaya, penerjemahan buku, residensi penulis, hingga kerja sama festival di masa mendatang,” ujarnya.

Ada tiga agenda strategis yang disiapkan. Pertama, partisipasi Indonesia dalam Le Festival du Livre de Paris 2027 dengan membawa delegasi penulis dan penerbit Indonesia.

Kedua, keterlibatan Prancis dalam Indonesia International Book Fair 2026 dan 2027. Ketiga, pengembangan subsidi penerjemahan bagi penerbit Prancis dan penerbit internasional lain agar karya sastra Indonesia bisa diterjemahkan dan diterbitkan dalam lebih banyak bahasa.

Agenda penerjemahan menjadi penting karena karya sastra Indonesia membutuhkan akses langsung ke penerbit, pembaca, dan festival internasional. Tanpa jalur itu, banyak karya kuat dari Indonesia sulit masuk percakapan global.

Connection Night juga dihadiri Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Direktur Institut Français Indonésie Jules Irrmann, Direktur Japan Foundation Indonesia Inami Kazumi, Direktur Rumata’ Art Space Riri Riza, Presiden Académie Goncourt Philippe Claudel, serta Sekretaris Jenderal Penerbit Éditions Gallimard Karina Hocine.

Dari Kementerian Kebudayaan hadir Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara, Direktur Pengembangan Budaya Digital Insan Abdirrahman, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan Sinatriyo Danuhadiningrat.

Melalui forum ini, Kementerian Kebudayaan menempatkan sastra sebagai jalur diplomasi budaya. Targetnya adalah memperluas akses karya Indonesia, membangun jejaring penerbitan, dan membuat penulis Indonesia lebih mudah masuk panggung internasional.