JAKARTA - Pemerintah mulai mendorong pasar baru bagi perfilman Indonesia di Timur Tengah. Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka pembicaraan kerja sama perfilman dengan Arab Saudi saat menghadiri Festival Film Cannes, Selasa, 13 Mei.
Dalam pertemuan dengan Abdullah Alayaf selaku Film Commission dan Red Sea Program Director Arab Saudi, Fadli menyoroti peluang besar kerja sama industri film antara dua negara dengan populasi Muslim terbesar dan pengaruh budaya yang kuat di kawasan masing-masing.
“Film dan storytelling dapat menjadi jembatan untuk menghadirkan narasi yang lebih beragam dan humanis kepada dunia,” kata Fadli Zon di Cannes, Prancis dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu, 14 Mei.
Fadli menilai hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak lagi cukup berhenti di sektor diplomasi formal. Industri film dinilai bisa menjadi ruang baru untuk memperkuat pengaruh budaya sekaligus memperluas pasar kreatif Indonesia di tingkat global.
Ia menawarkan kerja sama lebih luas, mulai dari pertukaran talenta, co-production, pendanaan film, penguatan festival, hingga pengembangan kapasitas sineas muda.
BACA JUGA:
Arab Saudi menyambut positif langkah tersebut. Abdullah Alayaf menyatakan minat agar lebih banyak film Indonesia masuk ke jaringan bioskop Saudi Arabia. Pernyataan itu menjadi sinyal penting karena pasar film Timur Tengah mulai tumbuh agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Fadli juga mendorong hubungan langsung antara Red Sea International Film Festival dengan platform film Indonesia seperti JAFF dan Jakarta Film Week. Menurut Fadli, kolaborasi festival dapat membuka akses lebih besar bagi sineas Asia dan Timur Tengah, termasuk pengembangan film pendek dan film panjang.
Di tengah upaya memperluas jejaring global, Fadli menilai industri film Indonesia sedang menunjukkan tren kuat. Ia menyebut dua film nasional, Jumbo dan Agak Laen 2, berhasil menembus lebih dari 10 juta penonton domestik dalam satu tahun.
“Berbagai sineas Indonesia juga terus memperoleh pengakuan di festival internasional. Ini menunjukkan ekosistem perfilman Indonesia terus tumbuh,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan, kata Fadli, juga tengah memperkuat ekosistem perfilman nasional lewat pengembangan talenta, peningkatan kapasitas sineas daerah, hingga perluasan pusat kreativitas film di berbagai wilayah.
“Kami ingin membangun kemitraan jangka panjang yang memperkuat diplomasi budaya dan memperluas kolaborasi perfilman Indonesia dengan komunitas film global, termasuk Arab Saudi,” kata Fadli.