JAKARTA - Di tengah derasnya arus digital, anak-anak kini semakin akrab dengan layar gawai dibanding ruang bermain. Kondisi tersebut memunculkan pentingnya mengembalikan anak pada gerak, permainan, dan pengalaman fisik yang nyata.
Pesan itu disampaikan Prof. Dr. Diah Andika Sari, M.Pd., guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UMJ yang dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Auditorium dr. Syafri Guricci Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK), Selasa, 12 Mei 2026.
Dalam balutan toga akademik, ia membawakan orasi ilmiah berjudul “Kedaulatan Jasmani: Melalui Revitalisasi Fondasi Motorik Anak Berbasis Budaya Lokal di Tengah Hegemoni Digital.”
Guru Besar ranting ilmu/kepakaran Perkembangan Motorik Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ ini menyoroti bagaimana kemajuan teknologi perlahan mendisrupsi pola aktivitas anak. Anak-anak kini lebih sering berinteraksi dengan layar dibanding lingkungan fisik di sekitarnya.
“Pesatnya perkembangan teknologi mendisrupsi pola aktivitas anak, menciptakan ketergantungan pada layar dan mengurangi ruang gerak alami anak,” ujar Diah.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan fenomena sedentary behavior atau perilaku minim gerak yang berdampak pada penurunan kualitas tumbuh kembang anak. Tidak hanya kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan motorik, kognitif, hingga kematangan emosional.
BACA JUGA:
Ia menjelaskan bahwa kurangnya stimulasi gerak pada masa golden age berpotensi menghambat pembentukan arsitektur saraf anak secara optimal. Karena itu, perkembangan motorik harus kembali ditempatkan sebagai fondasi utama perkembangan anak usia dini.
Dalam pemaparannya, Diah mengungkapkan adanya kesenjangan antara teori perkembangan anak dengan praktik pendidikan di lapangan. Secara teoritis, perkembangan fisik-motorik telah lama ditempatkan sebagai fondasi pembelajaran. Namun pada praktiknya, pendidikan anak usia dini justru lebih banyak berorientasi pada kemampuan akademik.
“Meski para ahli sepakat bahwa motorik adalah ‘nutrisi otak’, kenyataannya 92 persen aktivitas tambahan anak usia dini justru difokuskan pada kemampuan kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi kritik terhadap pendekatan pendidikan modern yang tanpa disadari melahirkan generasi yang lincah secara digital melalui scrolling dan swiping, tetapi mengalami pelambatan gerak tubuh.
Di tengah kondisi tersebut, Diah menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dan sekolah dalam membangun keseimbangan aktivitas digital anak. Konsep digital parenting dan neuroparenting, menurutnya, menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan layar sekaligus membangun pengalaman gerak yang nyata bagi anak.
“Teknologi harus dimanfaatkan sebagai katalis pembelajaran, bukan pengganti pengalaman nyata anak,” katanya.
Selain keluarga dan sekolah, budaya lokal juga menjadi bagian penting dalam gagasan “Kedaulatan Jasmani” yang diusungnya. Diah memandang permainan tradisional dan tari daerah bukan sekadar warisan budaya, melainkan media pembelajaran motorik yang kontekstual dan bermakna.
Penelitian yang dipaparkannya menunjukkan bahwa pembelajaran tari tradisional berbasis bermain gerak mampu meningkatkan kemampuan motorik kasar, koordinasi tubuh, keseimbangan, kreativitas gerak, hingga rasa percaya diri anak. Anak-anak juga dinilai lebih antusias ketika pembelajaran dikemas melalui pendekatan bermain, bercerita, dan eksplorasi gerak kreatif.
Melalui konsep embodied cognition, ia mengajak masyarakat untuk membangun pemahaman anak melalui pengalaman tubuh yang nyata. Bagi Diah, anak-anak Indonesia tidak cukup hanya unggul secara akademik dan digital, tetapi juga harus tumbuh sehat, kreatif, adaptif, resilien, dan memiliki identitas kebangsaan yang kuat.