JAKARTA - Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa menilai media siber tidak boleh hanya mengejar sensasi di tengah derasnya arus informasi digital. Media, kata Teguh, punya peran besar dalam memperkuat pendidikan dan literasi publik.
Teguh mengatakan pendidikan kini tidak lagi hanya berlangsung di ruang kelas. Anak-anak juga menyerap pengetahuan dari portal berita, platform digital, dan kanal edukasi daring.
“Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Hari ini dapat dikatakan media siber adalah ruang belajar kedua yang menjangkau jutaan anak bangsa,” kata Teguh dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu, 2 Mei.
Menurut Teguh, kecepatan penyebaran informasi lewat media digital bisa membantu pemerataan akses pengetahuan. Namun, peluang itu hanya berguna jika media ikut memilah dan menghadirkan konten yang mendidik.
“Media siber punya tanggung jawab besar. Tidak hanya menyebarkan berita, tapi juga mengkurasi konten yang mendidik, mencerdaskan, dan membangun karakter,” ujar dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
BACA JUGA:
Mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno tersebut mengatakan pers dapat memberi kontribusi nyata bagi kualitas sumber daya manusia jika jurnalisme berpihak pada literasi.
Ia juga menyoroti tantangan kecerdasan buatan dan otomatisasi yang mengubah dunia kerja. Menurut Teguh, generasi muda bisa tertinggal jika tidak dibekali kompetensi digital dan nalar kritis.
“Kalau kita tidak menyiapkan SDM yang adaptif, melek teknologi, dan punya nalar kritis, kita akan jadi penonton di negeri sendiri. Di sinilah media siber harus hadir sebagai katalis,” katanya.
Teguh mendorong anggota JMSI memperbanyak konten edukatif untuk siswa, guru, dan orang tua. Materinya bisa berupa ulasan kurikulum, praktik baik pembelajaran, literasi digital, hingga kewargaan.
“Jangan sampai media siber hanya ramai dengan sensasi. Kita perlu lebih banyak narasi yang mengangkat guru-guru inspiratif, inovasi sekolah, dan prestasi pelajar di daerah,” ucapnya.
Ia juga mengajak media siber, kementerian terkait, sekolah, kampus, dan komunitas belajar membuka ruang diskusi pendidikan yang lebih berbasis data dan pengalaman lapangan.
Teguh menegaskan, Hardiknas 2026 perlu menjadi titik untuk melihat ulang peran pers dalam pendidikan. Sebab, kualitas SDM menjadi taruhan Indonesia dalam persaingan global.