(JAKARTA), — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 masih
menyisakan beberapa catatan penting. Akses bahan bacaan, buku pedoman,
maupun bahan ajar bagi penyandang disabilitas netra masih jauh panggang dari api.
Secara global, seturut laporan World Blind Union, mengungkap lebih dari 90% karya tulis di dunia tidak dapat diakses penyandang disabilitas netra. Bahkan di Indonesia, menukil data Kemendikbudristek hingga akhir 2024, hanya 5% buku pelajaran dan bacaan umum telah dialihmedia menjadi bentuk lebih mudah akses bagi disabilitas netra, seperti braille, audiobook, atau format digital.
Dari jumlah alihmedia tersebut, tidak menyisakan ruang bagi bahan ajar tentang pembelajaran ilmu tentang kearifan lokal, salah satunya pedoman aksara Jawa bagi penyandang disabilitas netra. Selain memunculkan ketimpangan, absennya bahan ajar tersebut mengancam keberlangsungan generasi muda, termasuk teman-teman disabilitas netra, dalam usaha melestarikan warisan budaya takbenda nan beberapa karya di antaranya menjadi Memory of the World (MoW) UNESCO.
BACA JUGA:
Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI Nayla
Marinlee Auramadina atau karib disapa Marin menjawab permasalahan tersebut
dengan membangun sistem pembelajaran tentang penggunaan aksara Jawa lebih
inklusif dan adaptif bagi penyandang disabilitas netra, melalui Sandhya-Braille.
Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi pada era Revolusi Industri 4.0,
Marin merancang sistem pembelajaran aksara Jawa melalui pendekatan braille
silabis (abugida).
“Pendekatan braille silabis memungkinkan pembelajarannya tidak dilakukan secara
linier per-huruf seperti aksara Latin, namun menyesuaikan struktur aksara Jawa
sebagai sistem silabis, meliputi satuan aksara, pasangan, dan sandhangan sebagai
unsur pembentuk suku kata, sehingga memudahkan bagi penyandang disabilitas
netra mempelajari dan mengaplikasikannya,” kata Marin.
Pendekatan Sandhya-Braille, lanjut Marin, menjadikannya lebih sistematis, selaras
dengan struktur linguistik Jawa, serta berpotensi mendukung proses belajar menjadi
lebih mandiri, dan bermakna bagi pembelajar disabilitas netra.
Sistem perancangan dengan dasar konseptual kuat secara linguistik, matematis,
dan pedagogis itu dibangun melalui pemetaan kode unik, aturan transformasi teratur,
serta pembagian fungsi simbol pendukung keterbacaan secara taktil. Dengan begitu,
Sandhya-Braille tidak hanya berfungsi sebagai media bantu baca, tetapi juga
sebagai model pembelajaran inklusif agar dapat dikembangkan lebih lanjut untuk
memperluas akses literasi budaya bagi disabilitas netra.
Di bawah bimbingan Dr.Atin Fitriana dan Dwi Rahwamanto, M.Hum, Marin berhasil
beroleh Juara Pertama Mahasiswa Berprestasi (Mapres) FIB UI mengusung
Sandhya-Braille sebagai solusi atas belum tersedianya akses pedoman belajar
aksara Jawa bagi disabilitas netra.
“Saya berharap Sandhya-Braille tidak hanya berakhir menjadi gagasan pada ajang
Mapres FIB UI, melainkan bisa diwujudkan agar teman-teman disabilitas netra dari
dalam dan luar negeri dapat belajar dan memahami aksara Jawa sehingga dapat
menikmati sumber kearifan lokal berupa manuskrip beraksara Jawa. Bahkan lebih
jauh dapat melebarkan cita-cita menjadi filolog Jawa,” tegas Marin.
Bertepatan dengan peringatan Hardiknas 2026, sebagai mahasiswa Marin terdorong
mengamalkan Tridharma Perguruan Tinggi agar tidak saja berhenti pada pendidikan,
penelitian, tetapi juga pengabdian masyarakat sebagai solusi nyata agar berdampak
secara sosial.
Upaya menghadirkan pembelajaran aksara Jawa aksesibel bagi disabilitas netra itu
sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4
tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan
sebagai penegas pentingnya penyediaan akses belajar adil, inklusif, dan bermakna
bagi seluruh warga negara.
Semangat Marin mewujudkan Sandhya-Braille bukan tanpa alangan. Tingginya
biaya produksi Sandhya-Braille membuatnya harus memutar otak untuk mengajak
pelbagai pihak berkolaborasi agar pedoman belajar aksara Jawa bagi disabilitas
netra dapat diwujudkan, didistribusikan, dan digunakan secara berkelanjutan.