JAKARTA - Perang di Timur Tengah memperlihatkan rapuhnya ketahanan energi negara-negara ASEAN. Ketergantungan dari luar kawasan dinilai masih terlalu besar sehingga ekonomi Asia Tenggara mudah terguncang saat konflik global pecah.
Isu itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan dampak perang kini dirasakan negara-negara kawasan, terutama pada sektor pangan dan energi.
“Perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita, dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita,” kata Sugiono di Cebu, Filipina, Sabtu, 9 Mei.
Menurut Sugiono, negara-negara ASEAN mulai menyadari ketergantungan energi dari luar kawasan tidak bisa terus dibiarkan. Pengalaman pandemi COVID-19 dan konflik global menjadi alarm bagi Asia Tenggara.
“Kita agak sedikit lengah pasca COVID. Ketergantungan energi dari luar itu secara berlebihan tidak seharusnya terjadi,” ujarnya.
BACA JUGA:
Karena itu, ASEAN mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan kawasan. Salah satunya melalui ASEAN Petroleum Security Agreement dan penguatan APTERR atau cadangan beras darurat ASEAN Plus Three yang menjadi hasil pertemuan di Cebu.
Sugiono mengatakan Indonesia sejak awal menempatkan ketahanan energi dan pangan sebagai agenda utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyinggung percepatan pengembangan energi alternatif serta program swasembada pangan yang mulai menunjukkan hasil.
“Ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan hal paling mendasar yang harus dipenuhi sebuah negara,” katanya.
Menurut Sugiono, negara-negara ASEAN memiliki modal besar untuk mandiri energi jika mampu memperkuat kerja sama regional dan memanfaatkan potensi masing-masing negara anggota.
“Dengan potensi yang ada di masing-masing negara anggota ASEAN, sebenarnya kita mampu untuk bisa swasembada,” ujar Sugiono.
KTT ASEAN di Cebu banyak membahas dampak konflik global terhadap kawasan. Kekhawatiran terbesar muncul pada ancaman terganggunya rantai pasok energi dan pangan yang dapat langsung memukul kehidupan masyarakat Asia Tenggara.