PALEMBANG - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mengirimkan 16 sampel DNA korban kecelakaan Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, ke Laboratorium Pusdokkes Mabes Polri untuk mempercepat proses identifikasi korban.
Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang Kombes Pol Budi Susanto di Palembang, Jumat, mengatakan pengiriman sampel dilakukan melalui jalur udara pada hari kedua operasi DVI.
“Hari ini sampel DNA sudah kami kirimkan ke Mabes Polri, Laboratorium Pusdokkes Mabes Polri via udara, dari 16 sampelpostmortemdan delapan sampel untuk enam nomor dataantemortem,” katanya dilansir ANTARA, Jumat, 8 Mei.
Ia menjelaskan dari 16 sampelpostmortemtersebut, dua di antaranya diambil ganda untuk memastikan akurasi pemeriksaan karena kondisi jenazah sulit dikenali.
“Dari 16 itu kita ambil ada duadoublesampelnya, karena memang mengingat kondisi jenazah itu sulit untuk dikenali, jadi untuk memastikan kitadouble-kan pemeriksaannya,” katanya menjelaskan.
Proses identifikasi masih terus dilakukan melalui pencocokan datapostmortemdengan dataantemortemyang diperoleh dari keluarga korban melalui posko DVI dan layananhotline.
Selain pengiriman sampel DNA, tim DVI juga melakukan pemeriksaan ulang terhadap 16 kantong jenazah yang diterima di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, tim menemukan total 17 tubuh jenazah, termasuk satubody parttambahan yang diduga merupakan anak berusia di bawah lima tahun.
BACA JUGA:
“Nah, pada hasil pendalaman hari ini kami menemukan dalam satu kantong jenazah terdapat dua bagian tubuh yang menempel di daerah ketiak,” ujarnya.
Budi mengatakan hingga hari kedua operasi, tim belum dapat menetapkan identitas korban secara valid karena masih menunggu hasil pemeriksaan DNA dari laboratorium Mabes Polri.
Sementara itu, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan 13 jenazah teridentifikasi sebagai laki-laki dewasa, tiga perempuan dewasa, dan satu jenazah anak-anak yang belum diketahui jenis kelaminnya.
Tim DVI juga telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian di Aceh, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah untuk membantu pengambilan sampel DNA keluarga korban yang berada di luar Sumatera Selatan.
“Kita jemput bola untuk meminta bantuan tim DVI di daerah mengambil contoh sampel DNA keluarga inti ataupun properti yang biasa dipakai korban,” kata Budi.