BOGOR – Fenomena melimpahnya populasi ikan sapu-sapu di perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung kini mendapatkan tawaran solusi baru yang lebih bernilai ekonomi.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, mendorong pemerintah untuk mengarahkan pemanfaatan ikan invasif tersebut sebagai bahan baku suvenir dan pupuk organik bagi tanaman hias di lingkungan rumah warga, ketimbang sekadar dimusnahkan atau dikubur.
Langkah ini diusulkan guna menekan risiko kesehatan akibat konsumsi ilegal oleh masyarakat, mengingat adanya temuan riset terkait tingginya akumulasi logam berat pada jaringan tubuh ikan tersebut di wilayah Bogor dan Jakarta.
Alih-alih membiarkan bangkai ikan membusuk dan mencemari lingkungan, pemanfaatan bahan organik serta bentuk fisik ikan yang unik dinilai sebagai peluang ekonomi kreatif yang bisa dikelola di tingkat rumah tangga.
"Saya percaya semua ciptaan Tuhan pasti ada manfaatnya. Manfaat yang paling dasar dari bahan organik adalah sebagai pupuk. Kita bisa memanfaatkan ikan sapu-sapu ini sebagai pupuk untuk tanaman hias, tanaman yang kita nikmati keindahannya, bukan untuk dimakan," ujar Edi di BIOTROP, Bogor, Rabu, 6 Mei 2026.
Edi memberikan catatan penting bagi pemerintah dan masyarakat bahwa pupuk dari ikan sapu-sapu hasil tangkapan sungai tercemar sebaiknya hanya digunakan khusus untuk tanaman hias, bukan tanaman pangan seperti sayur atau buah.
BACA JUGA:
Hal ini bertujuan untuk memutus rantai paparan logam berat agar tidak terserap kembali oleh manusia melalui konsumsi makanan.
Karakteristik biologis ikan ini sebagai penghuni dasar perairan membuatnya rentan menyerap polutan dari lumpur, limbah industri, hingga sampah rumah tangga.
Selain potensi pupuk, sektor ekonomi kreatif juga dilirik melalui pembuatan kerajinan tangan dari ikan sapu-sapu yang dikeringkan.
Terinspirasi dari pengolahan ikan piranha di Brasil, bentuk fisik ikan sapu-sapu yang eksotis dan keras dianggap memiliki nilai artistik sebagai pajangan atau suvenir khas.
Menurut Edi, langkah ini jauh lebih bermanfaat dan aman daripada masyarakat mengambil risiko kesehatan dengan mengonsumsinya sebagai bahan pangan olahan.
Meski menawarkan solusi ekonomi, Edi tetap memberikan peringatan keras kepada masyarakat dan meminta pemerintah memperketat pengawasan agar ikan sapu-sapu tidak dijadikan bahan baku makanan.
Sebagai "pembersih" dasar sungai, ikan ini mengonsumsi apa pun yang mengendap, termasuk merkuri dan timbal.
Ia menegaskan bahwa syarat pangan utama adalah keamanan dan kesehatan, sehingga pemanfaatan sebagai produk kreatif di rumah warga menjadi jalan tengah terbaik untuk mengendalikan spesies invasif sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
"Untuk sekarang, peringatan kami tetap sama: ikan sapu-sapu dari perairan umum jangan dikonsumsi. Itu masih sangat membahayakan kesehatan," pungkas Edi.