JAKARTA - PT PAM Jaya mulai membuka pintu investasi asing untuk mempercepat target layanan air minum 100 persen di Jakarta. Salah satunya dengan menjajaki kerja sama dengan Bin Zayed International.
Penjajakan ini ditandai dengan penandatanganan nondisclosure agreement (NDA) sebagai tahap awal sebelum masuk ke pembahasan teknis dan potensi investasi.
Langkah tersebut merupakan lanjutan komunikasi setelah pertemuan pihak Bin Zayed International dengan Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota. Kini, pembahasan mulai diarahkan pada peluang konkret, khususnya pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM).
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menegaskan, kolaborasi menjadi kunci untuk mengejar target besar layanan air bersih di Jakarta.
"Arahan Bapak Gubernur dan Bapak Wagub sangat jelas, pemenuhan layanan dasar warga harus dilakukan secara serius, terukur, dan terbuka terhadap kolaborasi. PAM JAYA memiliki target besar untuk mencapai 100 persen cakupan layanan air minum di Jakarta. Karena itu, kami perlu membangun kerja sama dengan mitra-mitra yang memiliki kapasitas, pengalaman, teknologi, dan komitmen jangka panjang," kata Arief dalam keterangannya, Selasa, 18 April.
Selain memperluas cakupan layanan, PAM Jaya juga menghadapi persoalan klasik, yakni tingginya tingkat kehilangan air atau nonrevenue water (NRW). Kondisi ini dinilai semakin kompleks karena karakter Jakarta sebagai kota padat dengan jaringan utilitas bawah tanah yang saling bertumpuk.
"Pengurangan NRW menjadi salah satu pekerjaan besar PAM Jaya. Di Jakarta, tantangannya tidak sederhana karena kepadatan bangunan, jaringan utilitas yang kompleks, dan kebutuhan layanan yang terus meningkat. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bin Zayed International, menjadi penting untuk melihat kemungkinan dukungan teknologi, investasi, dan pengalaman internasional yang relevan bagi Jakarta," ucapnya.
BACA JUGA:
Tak hanya sektor air minum, Bin Zayed International juga melirik proyek infrastruktur strategis lain di Jakarta, termasuk potensi keterlibatan dalam pembangunan Giant Sea Wall. Minat ini sejalan dengan kebutuhan Jakarta terhadap infrastruktur skala besar untuk menopang status kota global.
PAM Jaya sendiri sebelumnya telah membuka komunikasi dengan sejumlah mitra internasional lain, seperti dari Turki dan Swiss, untuk menjajaki transfer teknologi hingga peningkatan kualitas layanan.
Arief menegaskan, penandatanganan NDA bukan sekadar formalitas, melainkan pintu masuk untuk memastikan kerja sama berjalan dengan tata kelola yang jelas.
"Penandatanganan NDA ini bukan sekadar formalitas administratif. Ini adalah pintu masuk untuk memastikan setiap proses kerja sama dilakukan secara profesional, akuntabel, dan berbasis kajian yang matang. PAM Jaya akan terus menjaga prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta kepentingan warga Jakarta sebagai prioritas utama," tegasnya.
(Foto: dok. PAM Jaya)