Bagikan:

JAKARTA — Anggota Komisi V DPR Sofwan Dedy Ardyanto meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan investigasi menyeluruh terhadap kecelakaan kereta api di lintasan rel kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April malam. Termasuk soal dugaan gangguan teknis taksi listrik asal Vietnam, Green SM yang disebut menjadi penyebab kecelakaan maut KRL arah Cikarang dengan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek.

Berdasarkan informasi terkini, sebanyak 14 penumpang wanita menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Sementara 84 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Sofwan juga meminta seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan perhatian penuh terhadap penanganan para korban, khususnya yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Dalam situasi darurat, tidak boleh ada hambatan, termasuk faktor administrasi. Penanganan medis harus menjadi prioritas utama, termasuk kemudahan pembiayaan melalui asuransi,” ujar Sofwan kepada wartawan, Selasa, 28 April.

Sofwan juga mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk segera melakukan investigasi menyeluruh guna mengungkap penyebab kecelakaan.

Ia menyoroti beberapa hal penting yang harus didalami, di antaranya pemicu terjadinya kecelakaan beruntun yang melibatkan KRL, kendaraan taksi, dan KA Argo Bromo. Menurutnya, perlu ada evaluasi terhadap sistem mitigasi kecelakaan, khususnya di stasiun-stasiun padat yang dilintasi oleh kereta komuter dan kereta jarak jauh.

“Perlu dijawab bagaimana sistem monitoring maupun petugas di lapangan bisa gagal mendeteksi atau mengantisipasi laju KA Argo Bromo hingga menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti,” tegas Legislator PDIP itu.

Sofwan juga meminta investigasi terhadap laporan masyarakat terkait dugaan gangguan teknis pada armada taksi listrik. Menurutnya, hal inipenting untuk memastikan apakah kendaraan yang terlibat dalam insiden tersebut mengalami kendala teknis hingga berhenti di tengah perlintasan rel.

Apabila diperlukan, tambah Sofwan, pemerintah harus melakukan inspeksi menyeluruh terhadap armada transportasi terkait guna memberikan jaminan keselamatan kepada masyarakat.

“Seluruh kemungkinan penyebab harus dibuka secara transparan sebagai bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” pungkasnya.