JAKARTA - Arab Saudi punya cara baru bercerita tentang minyak. Bukan lewat angka produksi, harga barel, atau grafik ekonomi, melainkan lewat lukisan, patung, foto, video, dan arsip.
Disadur dari Arab News, Jumat, 24 April, Museum Black Gold yang baru dibuka di Riyadh menampilkan lebih dari 350 karya seniman Arab Saudi dan internasional dari sekitar 30 negara. Museum ini berada di bangunan kontemporer rancangan Zaha Hadid.
Direktur Museum Black Gold, Jack Persekian, mengatakan museum ini ingin memperlihatkan peran minyak dalam membentuk sejarah manusia.
“Visi museum ini adalah menyajikan kisah minyak melalui mata para seniman,” kata Persekian kepada Arab News.

Menurut Persekian, minyak tidak hanya menjadi bahan bakar. Minyak juga hadir dalam makanan, pakaian, transportasi, perumahan, sektor medis, dan banyak benda yang dipakai manusia setiap hari.
Persekian mengatakan perubahan besar terjadi sejak pertengahan abad ke-19, ketika minyak mulai diolah secara industri dan dipakai untuk menggerakkan mesin. Dari sana, laju pembangunan manusia meningkat tajam.
Namun, museum ini tidak hanya memotret minyak sebagai sumber kemajuan. Pameran juga menyoroti sifat minyak sebagai sumber daya terbatas yang perlu digunakan secara hati-hati.
“Ini sumber daya yang langka dan jumlahnya terbatas di Bumi. Jadi, kita harus sangat berhati-hati dalam menggunakannya,” ujar Persekian.
BACA JUGA:
Bagian pertama museum, Encounters, menelusuri sejarah minyak Arab Saudi, termasuk penemuan Sumur Dammam No. 7. Bagian terakhir, Visions, menampilkan gagasan seniman tentang masa depan minyak dan kemungkinan penggantinya.
Persekian menyebut museum ini sebagai daya tarik unik. Menurutnya, belum ada tempat lain yang menceritakan sejarah minyak lewat sudut pandang seniman.
Seniman Arab Saudi Ahmed Mater ikut menampilkan karya di museum itu, termasuk Evolution of Man yang dibuat pada 2010. Karya tersebut dikenal sebagai kritik terhadap ketergantungan berlebihan pada petrodolar.
Mater mengatakan karyanya melihat minyak sebagai sumber energi sekaligus simbol ekonomi abad ke-20.
“Kita tidak boleh lupa bahwa minyak pada dasarnya adalah bahan organik, zat alami dari bumi,” kata Mater dikutip Arab News.
Menurut Mater, minyak sulit dilepaskan dari geopolitik, masyarakat, dan ekonomi. Karena itu, minyak menjadi tema yang kuat bagi seniman. Ia membuka banyak tafsir, dari kemajuan, kekayaan, ketergantungan, hingga masa depan energi.
Mater mengatakan museum ini juga membuka diskusi tentang energi alternatif dan keberlanjutan.
“Pertanyaannya, bagaimana kita dapat berinvestasi dalam keberlanjutan dengan menggunakan sumber daya ini?” ujarnya.