JAKARTA - Myanmar berencana membebaskan 4.335 narapidana dalam rangka Tahun Baru Myanmar. ASEAN menyambut langkah itu, tetapi juga mendorong pembebasan tahanan lain, termasuk Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian 1991.
Dikutip dari Philippine News Agency (PNA), Jumat, 24 April, seruan itu disampaikan dalam pernyataan Ketua ASEAN. ASEAN juga menyambut pembebasan mantan Presiden Myanmar, U Win Myint, sebagai langkah positif menuju dialog nasional yang lebih terbuka di Myanmar.
“Secara khusus, kami menyambut pembebasan U Win Myint dan memandangnya sebagai langkah positif menuju dialog nasional yang inklusif di antara semua pihak di Myanmar,” demikian pernyataan Ketua ASEAN.
ASEAN juga mendorong Myanmar melepas tahanan lain, termasuk Aung San Suu Kyi, dalam semangat rekonsiliasi dan perdamaian.
Krisis Myanmar masih menjadi salah satu ganjalan terbesar di ASEAN. Kekerasan belum berhenti. Warga sipil tetap perlu dilindungi. Bantuan kemanusiaan juga harus bisa masuk tanpa hambatan.
BACA JUGA:
ASEAN menyatakan tetap siap membantu mencari solusi damai dan berkelanjutan. Solusi itu disebut harus “dimiliki dan dipimpin Myanmar” serta tetap mengacu pada Konsensus Lima Poin atau Five-Point Consensus.
Konsensus itu masih menjadi rujukan utama ASEAN untuk menangani krisis Myanmar. ASEAN juga menegaskan Myanmar tetap bagian integral dari organisasi kawasan tersebut.
Ketua ASEAN, yang tahun ini dijabat Filipina, kembali meminta semua pihak di Myanmar segera menghentikan kekerasan, menahan diri, serta menjamin keselamatan warga sipil.
ASEAN juga meminta semua pihak menciptakan kondisi yang aman agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan.
Dalam pernyataan yang sama, ASEAN menyambut amnesti bagi warga negara Asia Tenggara. Mereka diharapkan bisa segera dipulangkan dengan aman, termasuk yang masih ditahan, terutama korban perdagangan manusia dan kejahatan lintas negara.