Bagikan:

JAKARTA - Kompleks Istana Lhagyari di Kabupaten Chusum, Daerah Otonom Xizang, menyimpan jejak panjang hubungan penguasa lokal Tibet dengan dinasti-dinasti pusat di China. Jejak itu bukan hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga masih berdiri dalam bentuk bangunan, halaman, dan detail arsitektur yang bertahan lintas abad.

Menurut laporan China Daily yang dikutip Kamis, 23 April, kompleks kerajaan yang berasal dari abad ke-13 itu dinilai penting oleh sejarawan dan akademikus karena memperlihatkan pertukaran budaya serta perpaduan etnis Tibet dan Han. Ciri itu terlihat dari gaya bangunannya yang memadukan arsitektur Tibet dengan detail kerajinan Han, sesuatu yang tergolong langka di istana-istana bersejarah di Xizang.

Bangunan yang paling menonjol adalah Istana Ganden Lhatse yang dibangun pada abad ke-17. Para peneliti menyebut istana ini sebagai bukti kuat hubungan yang berlangsung lama antara etnis Tibet dan Han. Nilainya bukan cuma historis, tetapi juga penting untuk meneliti perkembangan arsitektur di kawasan itu.

Sonam Yontan, mahasiswa doktoral Universitas Xizang yang meneliti garis keturunan kerajaan Lhagyari, menelusuri asal-usul keluarga itu hingga abad ke-9, setelah runtuhnya Kerajaan Tubo. Salah satu cabang keturunan kerajaan tersebut kemudian menetap di wilayah yang kini menjadi Chusum pada abad ke-13 dan menjadi penguasa lokal hingga pembebasan damai Xizang pada 1951.

Pada 1658, Depa Lhagyari secara resmi diberi wewenang memerintah wilayah Ae, nama historis yang lebih luas untuk Chusum. Pada masa itu, Istana Ganden Lhatse dibangun dan menjadi penanda puncak pengaruh garis keturunan tersebut.

Kompleks Istana Lhagyari juga menunjukkan tiga fase perkembangan arsitektur istana Tibet. Fase awal terlihat pada sisa dinding dan gerbang Istana Tashi Chodzong dari akhir abad ke-15. Fase pertengahan diwakili Ganden Lhatse pada abad ke-17. Sementara fase akhir tampak pada Istana Musim Panas yang dibangun pertengahan abad ke-20 oleh Lha Namgyal Gyatso, dengan perpaduan gaya Han dan Tibet.

Sonam Yontan mengatakan rancangan istana itu memadukan gaya Tibet dengan dougong, sistem braket bertumpuk khas pertukangan Han. Ganden Lhatse juga tidak hanya berfungsi sebagai istana, tetapi sekaligus benteng, pusat budaya, dan pusat perdagangan. Di dalamnya terdapat ruang pelayan, kandang kuda, perpustakaan naskah suci, dan alun-alun upacara atau karshal.

Alun-alun itu dipaving dengan kerikil hitam-putih yang disusun membentuk simbol keberuntungan Buddhisme Tibet, sekaligus memuat unsur yang disebut terinspirasi dari Tembok Besar. Selain nilai simbolik, susunan itu juga membantu drainase saat hujan.

Namun usia panjang juga membawa masalah. Kerusakan lingkungan dan pengabaian selama bertahun-tahun membuat sebagian kompleks berada dalam kondisi rapuh. Karena itu, situs ini ditetapkan sebagai unit perlindungan benda cagar budaya tingkat regional pada 1996, lalu naik menjadi situs cagar budaya utama tingkat nasional pada 2001.

Laporan China Daily menyebutkan, lebih dari 20,5 juta yuan dialokasikan untuk restorasi. Pekerjaan yang berlangsung pada 2010 hingga 2012 mencakup penguatan struktur, pemugaran alun-alun, pembersihan puing, penguatan lorong bawah tanah, dan pengamanan lereng di sekitar kompleks.

Bagi kawasan yang terpencil seperti Xizang, istana ini menunjukkan hal penting bahwa hubungan politik dan budaya dengan pusat kekuasaan sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Dan kadang, sejarah paling jelas justru tersimpan di bangunan yang masih sanggup bertahan.