Bagikan:

JAKARTA - Kepala Satpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan mengakui beban kerja anggotanya cukup berat. Mulai dari jam kerja panjang hingga minimnya fasilitas istirahat. Satriadi mengungkapkan, hasil pemeriksaan kesehatan terbaru menunjukkan banyak anggota Satpol PP mengalami tekanan darah tinggi.

Hal ini diungkapkan Satriadi dalam rapat kerja bersama Komisi A DPRD DKI Jakarta. Satriadi meminta DPRD mempertimbangkan penyesuaian pola kerja petugas dan alokasi anggaran untuk meringankan beban kerja jajaran Satpol PP.

"Kemarin kami melakukan medical check up, ternyata tensi darah tingginya luar biasa. Nah itu mungkin mohon Bapak Ibu Komisi A bisa memperhatikan kami," kata Satriadi di gedung DPRD DKI Jakarta. Kamis, 23 April.

Menurut dia, persoalan mendasar bukan hanya beban kerja, tetapi juga tidak tersedianya fasilitas istirahat yang layak di kantor-kantor kelurahan tempat anggota berjaga. Ia menyebut, kondisi tersebut memaksa anggota beristirahat seadanya, bahkan di tempat yang tidak semestinya.

"Di kantor kelurahan, mereka enggak ada tempat istirahatnya, padahal berjaga 24 jam. Sekarang masih menumpang (istirahat) di musala, kadang-kadang di lorong. Lalu, bagaimana mereka bisa bekerja dengan baik besoknya untuk melakukan penertiban? Pasti tensinya kan tinggi-tinggi semua," ungkap Satriadi.

Satriadi juga membeberkan angka kematian anggota yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2025, tercatat 35 anggota meninggal dunia, sementara pada 2024 jumlahnya mencapai 42 orang. Ia menegaskan, tingginya angka tersebut disebabkan oleh kondisi kerja yang berat dan keterbatasan sarana prasarana.

Keterbatasan jumlah personel turut memperparah situasi. Dalam satu kelurahan, jumlah anggota Satpol PP tak ideal, sehingga mereka harus bekerja dalam durasi panjang, bahkan hingga 36 jam.

"Anggota Satpol PP itu ada yang sampai kerja sampai 36 jam. Karena anggota Satpol PP di setiap kelurahan itu hanya berjumlahnya sekitar 7-10 orang. Nah dia, kenapa kita lakukan 36 jam? Karena beban kerjanya dengan jumlah personilnya tidak sebanding," urai Satriadi.

Di sisi lain, Satpol PP juga menghadapi tantangan menjaga ketertiban di tengah predikat Jakarta sebagai salah satu kota teraman di Asia Tenggara berdasarkan riset dari Global Residence Index tahun 2026."

Untuk memperkuat fungsi keamanan lingkungan, Satpol PP tengah mengkaji penguatan Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) dengan melibatkan petugas keamanan berbasis warga di tingkat RT dan RW.

"Kami masih melihat ada potensi di masyarakat yang petugas keamanan yang dibiayai oleh warganya sendiri di tingkat RT dan RW, Nah itu kan sayang kalau kita tak integrasikan dengan bagian dari Satlinmas," jelasnya.