Bagikan:

JAKARTA - Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengungkap ada wacana untuk menggandeng pemerintah daerah di wilayah penyangga Jabodetabek untuk ikut menangkap dan membasmi ikan sapu-sapu di sungai.

Hal ini berdasarkan data yang menunjukkan ikan sapu-sapu kini "merajai" aliran Sungai Ciliwung, yang aliranya tak hanya berada di Jakarta, namun juga di daerah penyangga seperti Bogor, Jawa Barat.

"Iya, dalam bentuk wacana (akan mengajak daerah penyangga menangkap ikan sapu-sapu," kata Hasudungan dalam pesan singkat, Rabu, 22 April.

Namun, sebelum menyampaikan ajakan kepada daerah penyangga, Pemprov DKI akan lebih dulu berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam penyusunan perencanaan lanjutan.

Mengingat, pelaksanaan itu berlandaskan Peraturan Menteri KKP Nomor 19 Tahun 2020 Tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang Membahayakan dan/atau Merugikan.

"Kalau pemerintah pusat, cakupannya lebih luas dan bisa menjangkau seluruh Indonesia," ucap Hasudungan.

Diketahui, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan langkah lanjutan untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang kian mendominasi perairan ibu kota. Salah satunya dengan membentuk tim khusus dari unsur penanganan prasarana dan sarana umum (PJLP).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, penanganan ikan invasif ini tidak akan berhenti pada kegiatan seremonial semata. Operasi penangkapan akan dilakukan secara rutin dan diperluas. Hal ini diungkapkan Pramono saat memimpin operasi penangkapan ikan sapu-sapu serentak di lima kota administratif Jakarta.

"Secara khusus nanti kami akan tugaskan PPLH yang bertugas khusus untuk mengurangi apa dominasi ikan sapu-sapu. nanti akan ada penugasan secara khusus PJLP yang menangani ikan sapu-sapu ini," kata Pramono di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 17 April.

Pramono mengungkapkan, salah satu tantangan utama dalam pengendalian ikan sapu-sapu adalah kemampuan berkembang biaknya yang sangat cepat. Dalam satu kali reproduksi, ikan ini mampu menghasilkan ratusan hingga ribuan telur.

Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian harus dilakukan secara konsisten. Jika tidak, populasi ikan sapu-sapu berpotensi kembali mendominasi dalam waktu singkat.

Pramono mengakui, populasi ikan sapu-sapu saat ini sudah mengkhawatirkan. Berdasarkan kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah ikan sapu-sapu di Jakarta diperkirakan sudah melampaui 60 persen dari total populasi ikan di perairan.

"Dari hasil telaah dari KKP diperkirakan di atas 60 persen lebih ikan sapu-sapu itu sekarang ada di Jakarta dan semua sebenarnya mungkin juga sudah di daerah-daerah lain," urainya.

Pramono menilai keberadaan ikan ini mengancam ekosistem. Sifatnya yang invasif membuat ikan lokal sulit bertahan hidup karena telur-telurnya dimakan. Selain itu, ikan sapu-sapu juga dinilai berbahaya jika dikonsumsi. Pemerintah menemukan adanya kandungan residu yang cukup tinggi, yakni di atas 0,3.